Samarinda, Infosatu.co – Digitalisasi pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak berjalan dengan kecepatan yang sama di setiap daerah. Persoalannya bukan lagi sebatas ada atau tidaknya jaringan internet, tetapi juga menyangkut kualitas koneksi dan kapasitas akses yang masih berbeda antara wilayah perkotaan dan daerah pedalaman.
Kondisi tersebut menjadi tantangan ketika sekolah dan guru mulai diarahkan memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Berbagai platform digital, bahan ajar berbasis teknologi hingga kecerdasan buatan (AI) membutuhkan koneksi yang memadai agar dapat digunakan secara optimal.
Di sejumlah wilayah yang berada jauh dari pusat kota, keterbatasan jaringan membuat pemanfaatan teknologi pendidikan belum dapat berjalan seperti di daerah dengan infrastruktur internet yang lebih baik.
Kepala UPTD Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Tekkom) Kaltim Sulaiman mengatakan akses internet secara umum sudah semakin tersedia, tetapi persoalan kapasitas dan kecepatan masih ditemukan di sejumlah daerah.
“Kalau jaringan internet secara umum sudah ada. Cuma memang kapasitasnya yang kadang-kadang menjadi kendala, terutama di daerah-daerah pedalaman,” kata Sulaiman saat dihubungi infosatu.co Minggu, 27 September 2026.
Menurut dia, kebutuhan terhadap akses internet semakin besar seiring dengan penerapan pembelajaran berbasis digital. Guru tidak hanya membutuhkan jaringan untuk mengakses informasi, tetapi juga untuk mengikuti pelatihan, menggunakan aplikasi pembelajaran hingga mengembangkan bahan ajar digital.
Perbedaan kondisi jaringan tersebut membuat pemanfaatan teknologi pendidikan belum bisa disamakan antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Sekolah dengan akses internet yang lebih baik memiliki ruang lebih luas untuk memanfaatkan berbagai layanan digital dibandingkan sekolah yang masih menghadapi keterbatasan koneksi.
Sulaiman mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi pendidikan. Pelatihan bagi guru tetap dilakukan, baik secara langsung maupun daring, dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Kalau memang memungkinkan kita lakukan secara offline. Kalau tidak memungkinkan, kita lakukan secara online melalui Zoom. Kita sesuaikan dengan kondisi daerahnya,” ujarnya.
Persoalan akses juga menjadi lebih terasa ketika teknologi yang digunakan membutuhkan koneksi internet dengan kapasitas besar.
Penggunaan video pembelajaran, konferensi daring, aplikasi digital maupun berbagai perangkat berbasis AI tidak hanya bergantung pada ketersediaan sinyal, tetapi juga kestabilan jaringan.
Menurut Sulaiman, dukungan terhadap akses internet menjadi bagian penting agar transformasi digital pendidikan tidak hanya berkembang di wilayah perkotaan. Infrastruktur teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkannya.
“Jangan sampai teknologinya ada, tetapi gurunya tidak bisa menggunakan. Sebaliknya, gurunya sudah bisa, tetapi jaringannya tidak mendukung. Jadi harus sama-sama berjalan,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi pendidikan akan terus membutuhkan penyesuaian dengan kondisi masing-masing daerah. Ketersediaan jaringan, kemampuan sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi harus diperhatikan secara bersamaan agar digitalisasi pendidikan dapat dirasakan lebih merata.
“Yang penting bagaimana teknologi itu bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran dan bisa menjangkau guru-guru di daerah,” tutupnya.
