Samarinda, Infosatu.co – Aktivitas pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) Tanah Merah Samarinda diperkirakan mencapai sekitar 200 ekor sapi selama Hari Raya Iduladha hingga tiga hari tasyrik tahun ini.
Kepala RPH Tanah Merah Samarinda Kartika Hatmisari menjelaskan, RPH pada dasarnya merupakan fasilitas pelayanan pemotongan hewan yang digunakan untuk memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai standar kesehatan dan ketentuan halal.
Ia menegaskan, tugas utama RPH meliputi penyediaan fasilitas pemotongan, pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dan sesudah dipotong, serta pelayanan penyembelihan halal. Sementara proses pengolahan lanjutan biasanya dilakukan oleh pelaku usaha atau jagal sesuai permintaan masyarakat.
“Jadi kita itu hanya pelayanan dari menyewakan tempat, kemudian pemeriksaan sebelum dan setelah dipotong, sama menyembelih secara halal,” ujarnya kepada Infosatu.co saat ditemui di ruangannya, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurutnya, aktivitas pemotongan di RPH sebenarnya berlangsung setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasokan daging di pasar Kota Samarinda. Namun saat Iduladha, jumlah pemotongan meningkat karena banyak masyarakat menggunakan jasa penyembelihan di RPH.
“Kalau kami rata-rata itu dari hari pertama sampai tiga hari tasyrik sekitar 200 ekor yang dipotong,” katanya.
Kartika mengungkapkan, tren penggunaan jasa RPH sempat meningkat signifikan saat pandemi Covid-19. Pada masa itu, masyarakat tidak diperbolehkan melakukan penyembelihan di masjid maupun lingkungan permukiman sehingga RPH menjadi lokasi utama pemotongan hewan kurban.
“Nah sebenarnya kegiatan ini terus meningkat itu ketika Covid. Waktu itu kan tidak boleh motong di masjid atau lingkungan, jadi satu-satunya tempat yang boleh motong di RPH,” jelasnya.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat masyarakat mulai mengenal layanan pemotongan hewan kurban di RPH. Selain dinilai lebih praktis, pengelolaan limbah hingga penanganan hewan juga dianggap lebih tertata.
Ia mengatakan, para jagal di RPH umumnya juga memiliki usaha penjualan hewan kurban sehingga proses penyembelihan dapat dilakukan langsung di area rumah potong tanpa harus memindahkan hewan ke lokasi lain.
Meski demikian, RPH tetap menjadi pilihan sebagian masyarakat karena dianggap lebih praktis dan tertata, terutama dalam pengelolaan limbah serta proses pemotongan hewan kurban.
“Jadi masyarakat tinggal datang menyaksikan saja. Tidak terlalu repot lagi mengurus pengangkutan atau limbahnya,” tutup Kartika Hatmisari.
