Samarinda, Infosatu.co – Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia setiap Agustus selama bertahun-tahun menjadi ladang penghasilan bagi pedagang bendera dan berbagai atribut merah putih.
Namun, tahun ini geliat penjualan bendera di Samarinda justru dirasakan menurun. Salah satunya dialami Wahyudin, pedagang asal Garut yang telah 14 tahun rutin datang ke Kota Tepian setiap momentum 17 Agustus.
Wahyudin mengaku, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, penjualan bendera pada 2026 menjadi yang paling sepi.
“Kalau dibanding dua atau tiga tahun sebelumnya, tahun sekarang paling parah,” kata Wahyudin saat ditemui di lapaknya di Jalan Bhayangkara beberapa waktu lalu.
Selama berjualan, Wahyudin memang tidak mencatat secara rinci jumlah bendera yang terjual setiap hari. Ia hanya memastikan hasil dagangannya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di Samarinda.
“Yang penting kita makan saja. Alhamdulillah ada buat makan juga. Tapi memang tidak seperti dua atau tiga tahun lalu,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, sekitar 2014 menjadi salah satu periode ketika penjualan bendera di Samarinda cukup ramai. Saat itu, stok yang dibawanya bisa nyaris habis menjelang puncak perayaan kemerdekaan.
“Kalau sekarang, jelang beberapa hari ke perayaan puncak aja barang masih banyak,” tuturnya.
Namun, Wahyudin mengaku tidak dapat memastikan apakah kondisi tersebut sepenuhnya disebabkan oleh daya beli masyarakat atau faktor lainnya.
“Kalau masalah itu saya juga kurang tahu. Tapi yang dirasakan tahun ini, pokoknya parah betul jualannya,” katanya.
Di sisi lain, kondisi penjualan tersebut juga dapat dilihat dari kebiasaan sebagian warga yang memilih menggunakan kembali bendera maupun atribut kemerdekaan dari tahun sebelumnya.
Salah satunya Endang, warga Samarinda, yang mengaku tidak selalu membeli bendera baru setiap menjelang 17 Agustus.
Menurutnya, selama bendera maupun atribut merah putih yang dimiliki masih dalam kondisi baik, barang tersebut cukup dibersihkan dan disimpan untuk digunakan kembali pada tahun berikutnya.
“Kalau saya, bendera-bendera yang sudah dipasang sebulan itu saya bersihkan dan saya simpan lagi untuk dipakai tahun berikutnya. Sudah saya lakukan tiga tahun terakhir, jadi memang tidak setiap tahun beli,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut terutama dilakukan terhadap atribut berbahan plastik yang masih mudah dibersihkan dan tidak mengalami kerusakan setelah digunakan selama sebulan.
Baginya membeli atribut baru setiap tahun bukan menjadi kebutuhan apabila perlengkapan yang dimiliki masih layak digunakan.
“Kalau masih bagus, ya dipakai lagi. Daripada setiap tahun beli baru,” katanya.
Kebiasaan seperti ini membuat kebutuhan membeli bendera tidak selalu muncul setiap tahun. Masyarakat tetap memasang atribut merah putih menjelang 17 Agustus, tetapi sebagian tidak harus kembali mengeluarkan uang untuk membeli perlengkapan baru.
Bagi pedagang seperti Wahyudin, penjualan bendera memang sangat bergantung pada momentum perayaan kemerdekaan.
Wahyudin sendiri telah sekitar 14 tahun menjalani aktivitas berjualan bendera di Samarinda. Setiap tahun, ia berangkat dari Garut sekitar tanggal 20 bersama teman dan saudara untuk mencari penghasilan dari momentum perayaan kemerdekaan.
Bendera yang dijualnya memiliki beragam ukuran dan harga. Bendera sepanjang 10 meter dibanderol sekitar Rp400 ribu, sedangkan ukuran 5 meter sekitar Rp250 ribu.
Untuk ukuran lebih kecil, harganya berkisar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu, tergantung ukuran dan jenis bendera.
Pria berusia 45 tahun itu mengatakan seluruh barang yang dijualnya berasal dari distribusi kampungnya. Ia juga tetap memahami ketika pembeli melakukan penawaran harga.
Meski telah belasan tahun menjadikan Agustus sebagai momentum mencari penghasilan di Samarinda, kondisi penjualan tahun ini membuat Wahyudin mulai mempertimbangkan kembali rencana berjualan pada tahun depan.
“Kalau tahun depan tidak tahu. Mikir dulu. Takutnya tambah parah,” ucapnya.
