Samarinda, Infosatu.co – Melalui program
Desa Cinta Statistik (Desa Cantik), jadi kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, memperkuat penyusunan kebijakan berbasis data.
Tahun ini, tiga kelurahan ditetapkan sebagai proyek percontohan, yakni Kelurahan Masjid, Kelurahan Bandara, dan Kelurahan Lempake.
Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan, ketiga kelurahan tersebut telah menyelesaikan penyusunan profil statistik yang nantinya menjadi acuan pemerintah. Dalam menentukan arah pembangunan.
“Kelurahan Masjid, Kelurahan Bandara, dan Kelurahan Lempake menjadi pilot project. Nantinya kami berharap seluruh 59 kelurahan juga dapat menyusun profil statistik seperti ini,” ujarnya di Bapperida Samarinda, Selasa 28 Juli 2026.
Menurut Neneng, data yang disusun melalui program Desa Cantik akan menjadi basis pengambilan kebijakan, mulai dari penanganan kemiskinan, pendidikan, hingga pengembangan potensi wilayah.
Melalui profil tersebut, pemerintah dapat mengetahui kondisi masing-masing kelurahan secara lebih rinci sehingga program yang dijalankan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau nanti pemerintah ingin melakukan intervensi di wilayah tertentu, kami sudah memiliki basis data yang akurat. Profil masing-masing kelurahan sudah tersedia,” katanya.
Program Desa Cantik juga berjalan beriringan dengan pelaksanaan Sensus Ekonomi. Pemkot mengajak camat, lurah, dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif memberikan data yang benar agar hasil pendataan benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan.
Neneng menilai, masih ada masyarakat yang khawatir saat didata. Padahal, informasi yang dikumpulkan akan dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan daerah.
“Jangan takut disensus. Data itu justru digunakan untuk kepentingan masyarakat sendiri, misalnya memetakan warga di bawah garis kemiskinan, tingkat pendidikan, hingga kondisi tempat tinggal,” jelasnya.
Ia menambahkan, informasi seperti jenis atap rumah, luas bangunan, hingga kondisi lantai menjadi bagian dari metode untuk memetakan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Data tersebut nantinya membantu pemerintah menentukan lokasi prioritas penanganan kemiskinan maupun program bantuan lainnya secara lebih tepat sasaran.
Selain memotret kondisi sosial, profil Desa Cantik juga memuat potensi ekonomi setiap wilayah, seperti sektor pariwisata maupun pertanian. Menurut Neneng, data itu akan menjadi dasar penyusunan program pembangunan ketika kondisi fiskal daerah kembali lebih stabil.
“Misalnya Kelurahan Masjid memiliki potensi pariwisata, nanti pemerintah bisa menentukan program apa yang tepat untuk mengembangkan potensi tersebut,” katanya.
Ia menegaskan, pengembangan potensi daerah juga diharapkan dapat mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) tanpa membebani masyarakat dengan pungutan baru.
“Kita ingin sumber PAD ke depan lebih banyak berasal dari pengembangan potensi daerah, terutama sektor pariwisata, bukan dengan menarik beban dari masyarakat,” pungkasnya.
