Samarinda, Infosatu.co – Musim kemarau dan kekeringan menjadi kondisi yang dapat mendorong umat Islam untuk memperbanyak doa dan ikhtiar memohon turunnya hujan.
Salah satu ibadah yang dianjurkan dalam kondisi tersebut adalah Salat Istisqa, yakni salat sunah yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.
Salat Istisqa memiliki dasar dari praktik Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Abdullah bin Zaid yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, Rasulullah SAW disebut pernah keluar menuju tempat salat untuk memohon hujan, menghadap kiblat, membalik selendangnya, kemudian melaksanakan salat dua rakaat.
Adapun tata cara Salat Istisqa yang dijelaskan dalam literatur fikih, sebagaimana dirangkum NU Online, secara umum hampir sama dengan salat Id. Berikut tata caranya.
1. Dilaksanakan secara berjemaah di tanah lapang
Salat Istisqa dianjurkan dilaksanakan secara berjemaah di tempat terbuka atau tanah lapang. Hal ini mengikuti praktik Nabi Muhammad SAW yang keluar menuju musalla untuk melaksanakan istisqa.
Namun, pelaksanaan Salat Istisqa tidak terbatas hanya di tanah lapang. Salat ini tetap dapat dilaksanakan di masjid apabila terdapat kebutuhan atau kondisi yang membuat pelaksanaan di tempat terbuka tidak memungkinkan.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat dianjurkan berkumpul dan bersama-sama memohon turunnya hujan. Orang tua, anak-anak, serta orang yang lemah secara fisik juga dianjurkan untuk ikut hadir.
Sebelum pelaksanaan, umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar, bertobat, bersedekah, serta meninggalkan perbuatan maksiat dan kezaliman sebagai bentuk merendahkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
2. Tidak didahului azan dan iqamah
Salat istisqa tidak didahului azan dan iqamah sebagaimana salat fardu.
Pelaksanaannya dilakukan setelah jemaah berkumpul dan imam siap memimpin salat. Dalam sejumlah penjelasan fikih terdapat pembahasan mengenai seruan kepada jemaah sebelum salat, tetapi seruan tersebut tidak perlu diposisikan sebagai bagian wajib dari tata cara Salat Istisqa.
3. Salat dilaksanakan dua rakaat
Salat istisqa terdiri atas dua rakaat.
Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, imam membaca takbir sebanyak tujuh kali sebelum membaca Surah Al-Fatihah.
Pada rakaat kedua, imam membaca takbir sebanyak lima kali sebelum membaca Surah Al-Fatihah.
Dengan demikian, tata cara dua rakaat salat istisqa pada dasarnya mengikuti tata cara salat Id.
4. Mengenakan pakaian sederhana dan merendahkan diri
Jemaah dianjurkan mengenakan pakaian yang sederhana dan tidak menunjukkan kesombongan atau kemewahan.
Pelaksanaan istisqa merupakan bentuk penghambaan dan permohonan kepada Allah SWT. Karena itu, jemaah dianjurkan hadir dengan sikap rendah hati, memperbanyak istigfar dan bertobat, serta menyadari kelemahan manusia di hadapan Allah SWT.
5. Dilanjutkan dengan khotbah
Setelah salat dua rakaat, khatib menyampaikan khotbah.
Khotbah salat istisqa dapat dilakukan dua kali atau satu kali. Khotbah setelah salat dinilai lebih utama.
Dalam penjelasan fikih yang dikutip NU Online, terdapat perbedaan dengan khotbah salat Id. Pada khotbah istisqa, lafal takbir diganti dengan istigfar karena konteks khotbah berkaitan dengan permohonan turunnya hujan.
6. Membaca istigfar sebelum khotbah
Sebelum khotbah pertama, khatib membaca istigfar sebanyak sembilan kali.
Kemudian, sebelum khotbah kedua, khatib membaca istigfar sebanyak tujuh kali.
Salah satu bacaan istigfar yang disebutkan dalam penjelasan NU Online adalah:
Astaghfirullahal ‘azhim, la ilaha illa huwal hayyul qayyum, wa atubu ilaihi.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya.”
7. Memperbanyak doa dan taubat
Pada khotbah kedua, khatib dianjurkan memperbanyak doa kepada Allah SWT agar hujan diturunkan dan masyarakat terbebas dari kekeringan.
Khatib juga memimpin jemaah untuk memperbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati.
Khatib dapat berdoa dengan suara lantang maupun pelan. Setelah melewati sepertiga khotbah kedua, khatib menghadap kiblat untuk memanjatkan doa.
Dalam hadis tentang praktik istisqa Nabi Muhammad SAW, beliau juga diriwayatkan menghadap kiblat ketika berdoa meminta hujan.
8. Khatib dan jemaah membalik pakaian
Dalam pelaksanaan salat istisqa, khatib dan jemaah juga dianjurkan membalik atau memutar pakaian luar, seperti selendang atau sorban.
Praktik ini memiliki dasar dari hadis tentang istisqa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Sahih al-Bukhari, Nabi SAW membalik selendangnya setelah menghadap kiblat dan sebelum melaksanakan salat dua rakaat.
Membalik pakaian tersebut dipahami sebagai bentuk pengharapan agar Allah SWT mengubah keadaan dari kekeringan menjadi turunnya hujan.
Ringkasnya
Urutan pelaksanaan salat istisqa dapat dipahami sebagai berikut:
1. Dilaksanakan secara berjemaah, dengan tanah lapang atau tempat terbuka sebagai tempat yang utama. Jika ada kebutuhan atau kondisi tertentu, salat tetap dapat dilaksanakan di masjid.
2. Tidak didahului azan dan iqamah.
3. Jemaah dianjurkan mengenakan pakaian sederhana dan menghindari sikap sombong.
4. Sebelum pelaksanaan, memperbanyak istigfar, taubat, sedekah, serta meninggalkan maksiat dan kezaliman.
5. Salat terdiri atas dua rakaat.
6. Rakaat pertama: takbir tujuh kali sebelum membaca Al-Fatihah.
7. Rakaat kedua: takbir lima kali sebelum membaca Al-Fatihah.
8. Setelah salat, khatib menyampaikan khotbah. Dua khotbah dinilai lebih utama.
9. Sebelum khotbah pertama, membaca istigfar sembilan kali.
10. Sebelum khotbah kedua, membaca istigfar tujuh kali.
11. Dalam khotbah kedua, memperbanyak doa memohon hujan.
12. Khatib menghadap kiblat ketika berdoa dan khatib bersama jemaah membalik pakaian sesuai tata cara yang dianjurkan.
Pernah Dilakukan pada Zaman Nabi Muhammad SAW
Salat istisqa memiliki contoh langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dalam Sahih al-Bukhari 1024, Abdullah bin Zaid meriwayatkan bahwa Nabi SAW keluar untuk melakukan istisqa, kemudian menghadap kiblat, berdoa meminta hujan, membalik selendangnya, lalu melaksanakan salat dua rakaat.
Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga disebut membelakangi jemaah ketika menghadap kiblat untuk berdoa sebelum membalik selendangnya dan memimpin salat dua rakaat.
Riwayat Sahih al-Bukhari 1026 juga menyebut bahwa Nabi Muhammad SAW memohon hujan, melaksanakan salat dua rakaat, dan membalik selendangnya.
Sementara itu, Sahih Muslim juga memuat riwayat mengenai Nabi SAW keluar ke tempat salat untuk melakukan istisqa, menghadap kiblat, melaksanakan dua rakaat, dan membalik selendangnya.
Dengan demikian, salat istisqa bukan hanya amalan yang dibahas dalam literatur fikih, tetapi memiliki dasar dari sunah Nabi Muhammad SAW. Praktik tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT ketika masyarakat menghadapi kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan.
