Samarinda, Infosatu.co – Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperkuat program ketahanan pangan di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan mengaktifkan kompi produksi di setiap Komando Distrik Militer (Kodim).
Unit tersebut akan diarahkan untuk mengembangkan kluster pertanian, peternakan, dan perikanan hingga mendukung proses produksi dari hulu ke hilir.
Danrem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) Brigjen TNI Anggara Sitompul mengatakan pengaktifan kompi produksi merupakan tindak lanjut perintah Panglima TNI. Pelaksanaannya akan melibatkan masyarakat dan pihak yang telah bergerak di sektor pertanian.
“Sekarang ini sudah keluar perintah dari Panglima TNI untuk mengaktifkan kompi produksi. Jadi, di setiap Kodim itu ada kompi produksi,” kata Anggara usai upacara HUT ke-81 TNI di Lapangan Makorem 091/ASN, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, kompi produksi akan membentuk kluster pertanian, peternakan, dan perikanan. TNI akan menggandeng masyarakat yang bergerak di sektor tersebut untuk membangun proses produksi yang berkelanjutan.
Konsep tersebut, kata Anggara Sitompul, diarahkan agar dukungan pemerintah kepada masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan produksi yang berjalan dalam jangka panjang.
“Bantuan-bantuan pemerintah itu tidak hanya begitu dibantu lalu hilang. Ini bisa terus berkelanjutan, sehingga pemerintah sekali bantu dan diharapkan bisa panjang,” ujarnya.
Selain pengembangan kompi produksi, program cetak sawah di Kaltim juga terus berjalan. Anggara Sitompul menyebut pada 2025 terdapat sekitar 1.200 hektare lahan yang dikerjakan dalam program tersebut.
Sementara untuk tahap berikutnya, TNI bersama pemerintah daerah menyiapkan cetak sawah seluas 5.000 hektare di Kaltim.
“Kemarin kami sudah diajak rapat untuk mencetak sawah 5.000 hektare di Kaltim,” tuturnya.
Ia mengatakan pengembangan lahan pertanian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan pangan di daerah.
“Sehingga ketika ada mata rantai dari luar yang terputus, pulau itu bisa mandiri, paling tidak dalam konteks pangan,” tutup Anggara Sitompul.
