Samarinda, Infosatu.co – Wartawan media Kaltim Khairul Umam menilai tantangan jurnalisme saat ini semakin besar karena masyarakat cenderung membaca dan mempertimbangkan berita secara emosional, sehingga informasi yang viral kerap lebih mendapat perhatian dibandingkan fakta.
Menurutnya kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi dunia jurnalistik karena informasi yang banyak diperbincangkan belum tentu memiliki dasar faktual yang kuat. Hal itu disampaikan Khairul Umam saat menjadi pembicara dalam Talkshow Pekan Jurnalistik 2026.
“Kita sekarang membaca berita itu secara emosional, maka yang viral itu lebih banyak dipertimbangkan daripada yang faktual,” ujar Khairul Umam, Minggu 13 September 2026.
Ia menjelaskan persoalan tersebut semakin kompleks karena informasi yang faktual justru sering kali disampaikan dengan cara yang dianggap membosankan. Kondisi ini membuat media arus utama harus menghadapi tantangan untuk tetap menyampaikan informasi yang berkualitas sekaligus menarik bagi pembaca.
“Yang lebih parah lagi, yang perlu dilakukan adalah yang faktual itu sering kali dikemukakan secara membosankan,” katanya.
Menurut Umam penyajian berita dengan gaya yang terlalu kaku dapat membuat pembaca kehilangan ketertarikan. Karena itu, jurnalisme dituntut tidak hanya mengedepankan akurasi dan fakta, tetapi juga mampu mengemas informasi secara menarik.
“Misalnya baca media arus utama dengan kaku-kakuannya, itu pasti membosankan,” ucapnya.
Ia menilai media perlu mencari cara agar berita berkualitas tidak kalah bersaing dengan informasi yang viral di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
“Nah, maka ini menjadi tantangan jurnalisme juga untuk menciptakan berita-berita yang berkualitas, menarik, tidak kalah viralnya,” tutur Khairul.
Umam menegaskan keberadaan berita yang faktual dan menarik menjadi penting sebagai bagian dari proses penyaringan informasi bagi masyarakat. Dengan demikian pembaca tidak hanya mengikuti informasi berdasarkan tingkat viralitas, tetapi juga mempertimbangkan kebenaran dan kualitas informasi yang disampaikan. Namun harus dikemas dengan narasi yang menarik pembaca.
“Saya kira itu sih. Yang kemudian menjadi filter untuk pembaca,” pungkasnya.
