infosatu.co
DISKOMINFO KALTIM

Kekerasan Terhadap Perempuan-Anak di Kaltim Meningkat, 85 Persen Pelaku Orang Terdekat

Teks: Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalimantan Timur, Noryani Sorayalita.

Samarinda, infosatu.co – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan peningkatan dalam tiga tahun terakhir.

Hal tersebut disampaikan oleh Noryani Sorayalita, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Kaltim.

Teks: Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Gerakan Bersama Menciptakan Institusi Pendidikan Bebas Kekerasan oleh DP3A Kaltim

Berdasarkan data DP3A Kaltim, jumlah laporan mencapai 945 kasus pada 2022, naik menjadi 1.118 kasus pada 2023, kemudian sedikit menurun menjadi 1.002 kasus pada 2024.

Namun pada Oktober 2025, laporan kembali melonjak hingga 1.110 kasus.

Dalam sambutannya, Noryani menyampaikan bahwa selama satu bulan, tepatnya September hingga Oktober 2025, terjadi penambahan 90 kasus. Dengan rata-rata 3 hingga 4 kasus per hari.

Tingginya angka laporan ini diakui bukan hanya menunjukkan meningkatnya kejadian kekerasan, tetapi juga tumbuhnya keberanian masyarakat untuk melapor.

“Kesadaran masyarakat untuk speak up sudah meningkat. Ini tanda positif karena semakin banyak kasus yang terungkap dan bisa ditangani,” ujarnya.

Hal tersebut disampaikan Noryani pada kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Gerakan Bersama Menciptakan Institusi Pendidikan Bebas Kekerasan, Senin, 8 Desember 2025.

DP3A menyebutkan tempat kejadian kekerasan terbanyak masih berada di lingkungan rumah tangga sebanyak 55,8 persen kasus dengan pelaku didominasi orang terdekat.

Sementara kekerasan di fasilitas umum menempati posisi kedua, dan institusi pendidikan tercatat sebanyak 6,2 persen kejadian.

Dari sisi pelaku, sebanyak 85 persen merupakan orang yang dikenal dan dekat dengan korban, seperti orang tua, pasangan, saudara, guru, hingga teman dari korban sekalipun.

Separuh dari seluruh kasus kekerasan yang dilaporkan melibatkan korban anak di bawah 18 tahun.

Data menunjukkan 46,4 persen korban adalah anak perempuan, sementara 14,6 persen adalah anak laki-laki.

Bullying, baik fisik maupun digital, juga menjadi faktor yang terus meningkat di lingkungan pendidikan.

“Kekerasan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dampak psikologis jangka panjang. Inilah yang paling berat ditangani,” tegasnya.

Pemprov Kaltim menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan aman bagi anak agar dapat tumbuh optimal sebagai bagian dari persiapan menuju Generasi Emas 2045.

Penguatan kebijakan di sekolah, kampus, dan institusi publik dinilai perlu segera dilakukan.

Related posts

Gubernur Kaltim Komitmen Pemerataan Pembangunan Wilayah Pedalaman Kaltim

Dhita Apriliani

Gubernur Kaltim Tegaskan Arah Kaltim Menuju Generasi Emas

Dhita Apriliani

2 Kali Ditabrak Tongkang, PUPR Investigasi Struktur Jembatan Mahulu

Dhita Apriliani

Leave a Comment

You cannot copy content of this page