Samarinda, Infosatu.co – Dampak El Nino di Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya perlu diwaspadai dari potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi cuaca yang lebih panas dan perubahan pola hujan juga dapat memperbesar risiko sejumlah bencana hidrometeorologi.
Akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman (Unmul) Riezdqhy Amalina Farahiyah Al Husna mengatakan perubahan kondisi iklim perlu diantisipasi secara lebih luas. Sebab, dampaknya dapat menjangkau berbagai sektor dan kelompok masyarakat.
Menurut Amalina, karakter El Nino di Kaltim memang berbeda dengan sejumlah daerah lain di Indonesia. Kaltim masih memiliki curah hujan relatif tinggi, tetapi intensitas hujan cenderung menurun ketika fenomena tersebut berlangsung.
“Curah hujan kita masih cukup tinggi dibandingkan wilayah lainnya, tetapi intensitasnya akan lebih berkurang dibandingkan biasanya,” ujar Amalina.
Berkurangnya tutupan awan turut membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi meningkat. Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap kenaikan suhu dan membuat lingkungan menjadi lebih kering.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena Kaltim memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang cukup luas. Ketika kondisi lahan semakin kering, risiko terjadinya kebakaran ikut meningkat.
Namun, menurut Amalina, persoalan karhutla tidak berhenti pada kerusakan kawasan yang terbakar. Hutan dan lahan gambut juga memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon.
“Ketika hutan atau lahan gambut terbakar, baik disengaja maupun tidak, tentunya akan melepaskan karbon yang masif ke udara,” katanya.
Pelepasan karbon tersebut berpotensi memperbesar emisi gas rumah kaca dan pada akhirnya memperburuk persoalan perubahan iklim. Kondisi itu menciptakan siklus yang saling berkaitan antara perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana.
Tak Hanya Karhutla
Amalina menyebut kondisi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim juga dapat meningkatkan potensi bencana lain di Kaltim. Di antaranya kekeringan, banjir, longsor hingga abrasi.
Karena itu, penanganan perubahan iklim menurutnya tidak bisa hanya berfokus pada respons ketika bencana sudah terjadi. Pemerintah perlu memperkuat langkah mitigasi dan pencegahan berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.
“Perubahan iklim perlu diantisipasi melalui riset dan penguatan data,” ujarnya.
Data tersebut dinilai penting untuk memetakan kawasan yang memiliki tingkat kerentanan tinggi sekaligus mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling berisiko terdampak.
Menurutnya, pemerintah daerah juga perlu memperkuat kebijakan perlindungan terhadap kawasan hutan dan lahan gambut. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mengurangi kerentanan lingkungan ketika menghadapi periode panas dan kering.
Dengan demikian, fenomena El Nino dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim, bukan hanya menunggu ketika karhutla mulai terjadi.
