Samarinda, Infosatu.co – Air baku dari Sungai Mahakam tidak langsung masuk ke dalam kemasan ketika diolah menjadi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Samaqua. Air tersebut harus melewati rangkaian pengolahan dan penyaringan berlapis sebelum dinyatakan layak untuk dipasarkan.
Produk yang dikembangkan Perumda Tirta Kencana Samarinda itu diproses melalui sistem water treatment, penyaringan menggunakan sejumlah media, ultrafiltrasi, hingga sterilisasi.
Seluruh proses pengisian dan penutupan kemasan juga dilakukan secara otomatis untuk meminimalkan kontak langsung dengan pekerja.
Kepala Pabrik AMDK Samaqua IPA Kalhol Amin Ma’ruf menjelaskan proses pengolahan dimulai dari air yang sebelumnya telah melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumdam Tirta Kencana Samarinda.
Air tersebut kemudian kembali diproses di fasilitas produksi Samaqua melalui sejumlah tahapan penyaringan untuk memastikan kandungan yang tidak diinginkan dapat dikurangi sebelum masuk ke tahap pengisian.
“Setelah air dari IPA, kita proses lagi melalui water treatment berlapis sebelum masuk ke ruang pengisian,” ujar Amin di Samarinda beberapa waktu lalu.
Tahap awal pengolahan menggunakan media green sand yang didatangkan dari Amerika Serikat. Media tersebut digunakan untuk membantu menyaring kandungan logam seperti mangan dan besi yang terdapat pada air baku.
Setelah itu, air melewati filter karbon yang menggunakan bahan dasar arang tempurung kelapa. Tahapan ini berfungsi menghilangkan bau dan rasa yang masih terdapat dalam air sehingga menghasilkan karakter air yang lebih segar.
Proses penyaringan kemudian dilanjutkan menggunakan filter dengan tingkat kerapatan berbeda, yakni 10 mikron, 5 mikron, hingga 1 mikron.
Air selanjutnya dimurnikan kembali menggunakan sistem ultrafiltrasi dengan membran berukuran 0,001 mikron.
Tahapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengolahan sebelum air masuk ke proses desinfeksi.
“Setelah itu masih ada proses desinfeksi menggunakan sinar ultraviolet dan oksigen generator untuk memastikan bakteri tidak berkembang di dalam kemasan,” jelasnya.
Setelah melewati seluruh rangkaian pengolahan, air kemudian masuk ke ruang pengisian. Amin mengatakan proses pengisian hingga penutupan botol dilakukan menggunakan sistem otomatis.
Dengan sistem tersebut, pekerja tidak bersentuhan langsung dengan air maupun bagian dalam kemasan selama proses pengisian. Hal itu dilakukan untuk menjaga higienitas produk.
Tidak hanya mengolah air, pabrik Samaqua juga mencetak botol sendiri menggunakan mesin blowing. Bahan yang digunakan berupa preform atau calon botol yang kemudian dibentuk menjadi kemasan sesuai ukuran dan desain yang dibutuhkan.
Menurut Amin, penggunaan preform membuat distribusi bahan kemasan lebih efisien dibandingkan membeli botol yang sudah jadi.
“Kalau membeli botol jadi, satu kontainer hanya muat sekitar 60 ribu botol. Sementara kalau membeli preform atau calon botol, satu kontainer bisa memuat sampai 600 ribu. Jadi jauh lebih efisien meski investasinya lebih besar,” katanya.
Mesin pencetak tersebut juga memungkinkan pabrik membuat berbagai ukuran dan desain botol dengan mengganti cetakan yang digunakan.
Samaqua juga menerapkan masa karantina sebelum produk diedarkan. Setiap produk yang telah dikemas harus melalui pemeriksaan selama 24 jam untuk memastikan tidak terdapat pertumbuhan bakteri.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi produk aman, AMDK tersebut baru dapat dipasarkan.
“Kalau dalam 24 jam hasilnya aman, produk siap dipasarkan. Selama ini alhamdulillah hasilnya selalu memenuhi standar karena sterilisasi mesin kami jaga dengan ketat,” ucap Amin.
Dari sisi kapasitas, mesin pencetak botol Samaqua mampu menghasilkan sekitar 2.000 botol per jam. Sementara mesin pengisian memiliki kapasitas hingga 3.000 botol per jam.
Untuk kemasan galon, mesin pengisian mampu memproduksi sekitar 120 galon per jam.
Di tengah pengembangan produksi, Amin mengakui sebagian peralatan dan bahan pendukung masih berasal dari luar negeri.
Mesin produksi didatangkan dari China, sementara bahan baku plastik untuk kemasan juga masih bergantung pada pasokan impor.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi dapat terpengaruh perubahan harga dan situasi ekonomi global.
Saat ini, pabrik Samaqua mempekerjakan 12 orang yang menangani sejumlah bagian, mulai dari produksi, pengemasan, gudang hingga pemasaran.
Amin berharap peningkatan permintaan terhadap Samaqua dapat mendorong pengembangan kapasitas produksi sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
“Kalau permintaan semakin banyak tentu kami berharap jumlah SDM juga bisa ditambah. Selain itu fasilitas pendukung seperti sirkulasi udara di area produksi juga perlu ditingkatkan agar kenyamanan pekerja semakin baik,” pungkasnya.
