Samarinda, Infosatu.co – Pergeseran wajah pendidikan tinggi mulai terasa di IKIP PGRI Kalimantan Timur. Kampus ini tidak lagi menempatkan skripsi sebagai satu-satunya jalan kelulusan, melainkan membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya yang berdampak langsung ke masyarakat.
Rektor IKIP PGRI Kaltim Suriansyah menegaskan bahwa keberagaman tugas akhir mahasiswa tahun ini menjadi sinyal perubahan cara pandang kampus terhadap kualitas lulusan.
“Karya ilmiah atau tugas akhir mahasiswa tahun ini sangat variatif. Ini menunjukkan mahasiswa punya kemampuan yang bahkan di luar prediksi kami,” ujarnya usai pembukaan ujian skripsi gelombang pertama tahun akademik 2025/2026, Kamis, 11 Juni 2026.
Menurutnya, kebijakan memberi kebebasan memilih jalur tugas akhir bukan sekadar inovasi akademik, tetapi bagian dari respons terhadap dinamika pendidikan tinggi global. Mahasiswa kini tidak hanya bergantung pada arahan kampus, melainkan aktif menyerap perkembangan dari luar.
Fenomena ini sejalan dengan dorongan konsep “Kampus Berdampak” yang mulai digaungkan pemerintah. Dalam konsep tersebut, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kelulusan, tetapi dari sejauh mana karya mahasiswa memberi manfaat nyata.
Di IKIP PGRI Kaltim, dampak itu mulai diarahkan secara konkret. Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, misalnya, didorong untuk terlibat dalam pengembangan koperasi desa. Sementara mahasiswa Pendidikan Otomotif diarahkan membina bengkel kecil agar mampu memenuhi standar industri.
“Karya mahasiswa tidak boleh berhenti di kampus. Harus ada dampaknya ke masyarakat,” tegas Suriansyah.
Selain itu, kampus juga mulai menekan pentingnya publikasi ilmiah. Setelah ujian skripsi, mahasiswa akan mendapatkan pembinaan khusus agar hasil penelitiannya bisa diterbitkan di jurnal. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan daya saing lulusan sekaligus memperluas kontribusi akademik mereka.
Di sisi lain, upaya percepatan masa studi tetap menjadi perhatian. Kampus menargetkan mahasiswa dapat lulus dalam waktu maksimal empat tahun. Selain menjaga efektivitas pendidikan, kebijakan ini juga bertujuan mengurangi beban ekonomi mahasiswa dan orang tua.
“Kalau kuliah selesai tepat waktu, mereka bisa lebih cepat masuk dunia kerja. Itu yang kita dorong,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Humas dan Kerja Sama IKIP PGRI Kaltim Abdul Rozak Fahruddin mengungkapkan bahwa sebanyak 72 mahasiswa mengikuti ujian skripsi gelombang pertama tahun ini.
“Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga menjadi penyumbang terbanyak, disusul Pendidikan Ekonomi dan Pendidikan Otomotif,” ujarnya.
Meski jumlah peserta masih didominasi jalur skripsi, kampus optimistis tren tugas akhir berbasis praktik dan pengabdian masyarakat akan terus meningkat.
Perubahan ini menandai satu hal penting, kampus tidak lagi sekadar mencetak sarjana, tetapi mulai menuntut mahasiswa menjadi problem solver bagi lingkungan sekitarnya.
