Samarinda, Infosatu.co – Nuansa Pulau Dewata terasa begitu kental di jantung Kota Tepian saat Festival Pesona Nusantara menghadirkan Gelar Seni Tari Bali di Teras Samarinda, Sabtu malam, 27 Juni 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 Wita ini sukses menyedot perhatian masyarakat yang memadati area Teras Samarinda.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Samarinda I Putu Suberata, turut hadir dalam kegiatan tersebut yang menjadi ruang ekspresi sekaligus pelestarian budaya nusantara, khususnya seni tari Bali.
Acara dibuka dengan sambutan hangat dari pembawa acara yang menekankan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah arus globalisasi. Ia mengingatkan bahwa banyak negara lain mulai mempelajari bahkan mengadopsi seni tari dan gamelan Bali.
“Jangan sampai budaya kita diklaim pihak lain,” kata Putu di hadapan penonton.
Festival ini secara khusus menampilkan peran aktif Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) sebagai penggagas penampilan seni tari.
Acara semakin meriah ketika MC juga menyinggung pentingnya peran perempuan dalam menjaga budaya.
“Emansipasi ibu harus berjalan. Laki-laki tidak sanggup sendirian menopang Nusantara,” katanya, yang disambut tepuk tangan meriah dari penonton.
Beragam pertunjukan ditampilkan dalam gelar seni tersebut, mulai dari Tabuh Kebyar, Tabuh Puspanjali, hingga Tabuh Padma Kumala yang memukau dengan kekuatan musik gamelan khas Bali. Tak hanya itu, penonton juga disuguhkan tarian-tarian ikonik seperti Tari Cendrawasih, Tari Dadong Rerod, hingga Tari Kecak yang menghadirkan suasana magis di tengah kota.
Penampilan lainnya seperti Tari Topeng Jauk dan Moyer, Tari Janger Abinaya, serta Tari Joged Bumbung semakin memperkaya ragam pertunjukan malam itu. Setiap tarian dibawakan dengan penuh totalitas meskipun persiapan diakui dilakukan secara mendadak.
“Kalau belum sempurna, mohon dimaafkan. Tapi kami berusaha maksimal agar penonton puas,” ungkapnya, menunjukkan dedikasi para seniman dalam memberikan penampilan terbaik.
Menariknya, kegiatan ini juga disebut sebagai “kesempatan langka” bagi masyarakat Samarinda untuk menikmati seni Bali tanpa harus jauh-jauh ke Pulau Dewata. Konsep menghadirkan budaya Bali langsung ke daerah dinilai menjadi langkah efektif dalam memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya.
Puncak acara ditandai dengan pembukaan simbolis melalui pemukulan gong yang menandai dimulainya rangkaian pertunjukan secara resmi. Suasana semakin semarak dengan antusiasme penonton yang terus bertahan hingga akhir acara.
Festival Pesona Nusantara ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga pengingat bahwa keberagaman budaya Indonesia adalah kekuatan yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
