Samarinda, Infosatu.co – IKIP PGRI Kalimantan Timur (Kaltim) terus mengubah paradigma pendidikan tinggi dengan tidak lagi menjadikan skripsi sebagai satu-satunya bentuk tugas akhir mahasiswa.
Kampus kini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya yang berdampak langsung bagi masyarakat, sekaligus memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
Rektor IKIP PGRI Kaltim Suriansyah mengatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari implementasi konsep Kampus Berdampak yang mendorong mahasiswa menyelesaikan studi melalui berbagai bentuk tugas akhir sesuai kompetensi masing-masing.
“Mulai tahun kemarin, tugas akhir mahasiswa tidak mesti harus skripsi. Mahasiswa juga bisa memilih portofolio, kegiatan magang maupun bentuk lain yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi,” ujarnya usai Yudisium Program Sarjana Tahun Akademik 2025/2026 di IKIP PGRI Kaltim, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Suriansyah, keberagaman tugas akhir tersebut menunjukkan perubahan cara pandang kampus terhadap kualitas lulusan.
Mahasiswa tidak lagi hanya dituntut menyelesaikan penelitian, tetapi juga menghasilkan karya yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Karya ilmiah atau tugas akhir mahasiswa tahun ini sangat variatif. Ini menunjukkan mahasiswa punya kemampuan yang bahkan di luar prediksi kami,” katanya.
Ia mencontohkan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi didorong terlibat dalam pengembangan koperasi desa.
Sementara mahasiswa Pendidikan Vokasional Teknologi Otomotif diarahkan membina bengkel kecil agar mampu memenuhi standar industri.
Adapun mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga dapat mengembangkan tugas akhir melalui pembinaan atlet maupun pelatih di daerah.
“Karya mahasiswa tidak boleh berhenti di kampus. Harus ada dampaknya ke masyarakat,” tegasnya.
Selain memberi keleluasaan dalam bentuk tugas akhir, kampus juga tetap menekankan kualitas akademik melalui pembinaan publikasi ilmiah.
Mahasiswa didorong menerbitkan hasil penelitiannya di jurnal sebagai bagian dari peningkatan daya saing lulusan.
Di sisi lain, IKIP PGRI Kaltim juga terus mendorong mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu. Kampus menargetkan masa studi maksimal empat tahun agar lulusan dapat lebih cepat memasuki dunia kerja sekaligus mengurangi beban ekonomi mahasiswa dan orang tua.
“Kalau kuliah selesai tepat waktu, mereka bisa lebih cepat masuk dunia kerja. Itu yang kita dorong,” ujarnya.
Suriansyah menilai pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejumlah mahasiswa bahkan telah direkrut oleh sekolah sebelum menyelesaikan studinya, sementara secara umum hampir separuh mahasiswa IKIP PGRI Kaltim telah bekerja sambil kuliah.
“Alhamdulillah ada program studi yang mahasiswanya sudah direkrut sekolah sejak semester enam atau tujuh. Bahkan secara umum hampir 50 persen mahasiswa kami bekerja sambil kuliah,” pungkasnya.
