Samarinda, Infosatu.co – Penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan di era digital yang semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), maraknya hoaks, hingga lunturnya etika bermedia menjadi persoalan nyata yang harus direspons dengan serius oleh seluruh elemen bangsa.
Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Forum Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama DPR RI, bertajuk “Penguatan Ideologi Pancasila di Tengah Tantangan Bangsa di Era Digital”, yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 2 Juli 2026.
Anggota DPR RI, Dr H Sukamta menegaskan bahwa ruang digital saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi, khususnya AI, menghadirkan peluang besar, namun juga menyimpan tantangan serius dalam menjaga identitas dan nilai kebangsaan.
“Digital bukan lagi gangguan, tetapi sudah menjadi irama hidup kita. Karena itu, kita perlu memiliki alat saring agar tetap memiliki kesadaran sebagai warga negara yang berpegang pada nilai-nilai Pancasila,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa algoritma media sosial tidak bersifat netral, melainkan membawa nilai dan kepentingan tertentu. Oleh sebab itu, Pancasila harus dijadikan kompas moral dalam menyaring berbagai informasi serta pengaruh budaya global yang masuk melalui ruang digital.
Sementara itu, Peneliti NEXT Indonesia, Asep Rohmatullah, menjelaskan bahwa Pancasila bukan hanya ideologi negara, melainkan sistem nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Ia mengibaratkan Pancasila sebagai pondasi rumah, UUD 1945 sebagai kerangka, NKRI sebagai bangunan utama, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat persatuan.
Mengacu pada berbagai hasil survei, Asep menyebut mayoritas masyarakat Indonesia masih meyakini Pancasila sebagai dasar terbaik bagi bangsa. Namun, ia mengingatkan bahwa era digital juga membawa ancaman seperti krisis etika, penyebaran hoaks, radikalisme, hingga infiltrasi ideologi asing.
“Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi perangkat lunak keamanan masa depan bangsa,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan literasi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan ideologi agar masyarakat mampu menghadapi dinamika dunia digital secara bijak dan bertanggung jawab.
Senada dengan itu, Ketua DPD KNPI Gunungkidul, Wahyudi Syakuri, menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi Pancasila di era digital. Ia mendorong pemanfaatan media digital sebagai sarana menyebarkan nilai kebangsaan dan memperkuat persatuan.
“Mari banjiri ruang digital dengan konten kreatif yang bernafaskan Pancasila. Jangan biarkan ruang ini dipenuhi hoaks dan ujaran kebencian,” katanya.
Melalui forum ini, para narasumber sepakat bahwa penguatan Pancasila tidak cukup hanya dihafal, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, khususnya dalam aktivitas digital. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, beretika, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila demi masa depan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.
