Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menegaskan peningkatan jumlah temuan kasus Tuberkulosis (TB) maupun Human Immunodeficiency Virus (HIV) tidak selalu menunjukkan kondisi yang memburuk.
Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa upaya skrining dan penemuan kasus berjalan lebih baik.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan prinsip utama dalam program pengendalian TB dan HIV adalah menemukan penderita sedini mungkin agar segera mendapatkan pengobatan.
“Semakin cepat kita menemukan penderita melalui skrining, maka semakin cepat pula pengobatan dapat dilakukan. Jadi jangan dibalik pemahamannya. Ketika angka penderita meningkat, bisa jadi karena skrining yang dilakukan semakin kuat,” katanya di Gedung DPRD Samarinda, Kamis 25 Juni 2026.
Menurut Ismed, TB dan HIV merupakan penyakit menular yang memerlukan deteksi dini untuk memutus rantai penularan. Karena itu, skrining harus terus diperkuat di seluruh lapisan masyarakat.
Ia mengungkapkan kelompok yang paling banyak ditemukan mengidap TB maupun HIV di Samarinda berada pada usia produktif, yakni sekitar 20 hingga 40 tahun.
“Berdasarkan data yang ada, baik TB maupun HIV paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif,” ungkapnya.
Khusus untuk HIV hingga Juni tahun 2026, Dinkes mencatat sekitar 180 kasus baru telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, sekitar 140 orang telah menjalani pengobatan.
Ismed menyebut kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL) masih menjadi penyumbang kasus HIV terbesar di Samarinda.
Kata dia, pola tersebut juga terjadi di berbagai daerah lain di wilayah Indonesia.
“Kalau dirinci kelompok LSL masih menjadi proporsi terbesar dalam temuan kasus HIV,” jelasnya.
Sementara itu, untuk pencegahan TB, Dinkes menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh serta memberikan edukasi kepada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita agar memahami langkah pencegahan penularan.
Ia menegaskan TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan selama pasien menjalani pengobatan secara teratur dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“TBC bisa sembuh asalkan minum obat secara teratur. Karena itu, penemuan penderita harus dilakukan secepat mungkin,” tegasnya.
Ismed menambahkan capaian penemuan kasus TB di Samarinda tahun lalu mencapai hampir 91 persen dari target yang ditetapkan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang menurutnya masih berada di bawah 70 persen.
“Artinya skrining yang kita lakukan sudah berjalan cukup baik. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mempertahankan bahkan meningkatkan capaian tersebut agar penanganan TB dan HIV semakin efektif,” tutupnya.
