Samarinda, Infosatu.co – Pemadaman listrik yang terjadi di Kota Samarinda belakangan ini diduga berkaitan dengan gangguan pasokan batu bara ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal tersebut disampaikan oleh Abdul Rohim, Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, saat ditemui di Gedung DPRD Kota Samarinda, Jalan Basuki Rahmat, Kamis, 25 Juni 2026.
Menanggapi pertanyaan terkait penyebab pemadaman listrik yang kembali terjadi setelah lama tidak ada pemadaman bergilir, Abdul Rohim menyebut kondisi ini kemungkinan memiliki keterkaitan dengan situasi nasional.
“Mati listrik di Samarinda ini sepertinya juga ada hubungannya dengan situasi di nasional. Jadi, kan kemarin sempat ramai misalnya pemadaman bergilir di Jawa. Apa sebabnya? Karena suplai batu bara ke PLN itu tidak mencukupi kebutuhan yang ada di PLN, makanya kemudian dilakukan pemadaman bergilir,” ujar Abdul Rohim.
Ia menjelaskan, kondisi serupa diduga turut terjadi di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur dan Samarinda, akibat keterbatasan pasokan energi.
“Nah, itu juga sepertinya yang sedang terjadi di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, Samarinda. Jadi, suplai energi kita terbatas karena gangguan atau kekurangan suplai batu bara ke PLN. Ini yang menyebabkan kemudian beban kapasitas kapasitas penyediaan listriknya itu kurang dari beban yang harus dilayani. Itulah yang menyebabkan kenapa saat ini terjadi pemadaman listrik. Setahu saya itu yang terjadi saat ini.” kata dia.
Menurutnya, pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam menangani persoalan tersebut karena kewenangan berada di tingkat pusat, khususnya antara PLN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Solusinya ya sebenarnya kita di daerah tidak bisa berbuat banyak, karena ini solusinya ada di pusat, antara PLN selaku perusahaan penyedia listrik dengan ESDM yang menaungi industri batu bara.” paparnya.
Ia pun berharap permasalahan ini segera diselesaikan agar tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat.
“Jadi, kita ya kita tunggu saja. Memang mau ngomong apa juga sulit, kan? Jadi kita tunggu saja, semoga ini cepat bisa terselesaikan, bahwa suplai batu bara ke PLN bisa sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan, sehingga proses pemadaman listrik bisa berhenti, tidak tidak lagi dilakukan. Karena ini kan mengganggu aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat.” jelasnya.
Sementara itu, terkait keluhan masyarakat mengenai kurangnya informasi dari PLN, Abdul Rohim menilai komunikasi sebenarnya telah dilakukan, namun perlu ditingkatkan.
“Sebenarnya kalau kita mengikuti, PLN sudah sudah menyampaikan. Tapi ya mungkin perlu di apa? Sosialisasi lebih intens. Terutama soal jadwal pemadaman, supaya masyarakat bisa bersiap-siap,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya transparansi jadwal pemadaman agar masyarakat dapat mengantisipasi dampaknya.
“Di tingkat daerah yang memungkinkan untuk kita lakukan itu, kita minta kepada PLN, kalau mau melakukan pemadaman, tolong sosialisasikan secara masif dengan menggunakan berbagai media. Termasuk teman-teman wartawan, itu 2-3 hari sebelumnya itu disampaikan kalau memang mau ada pemadaman. Sehingga warga bisa siap-siap untuk menghadapi proses pemadaman. Termasuk berapa lama dipadamkannya, kan daerah dipadamnya di mana, jamnya jam berapa, berapa lama itu mestinya disampaikan kepada masyarakat, jadi kita bisa siap-siap,” tandasnya.
Ia juga menyarankan agar masyarakat dapat melakukan mitigasi mandiri jika informasi pemadaman disampaikan lebih awal, seperti menyiapkan genset atau mengatur aktivitas harian.
Pemadaman listrik yang terjadi saat ini dinilai berdampak langsung pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan penanganan cepat serta koordinasi yang lebih baik.
