infosatu.co
EKONOMI

PAD Pariwisata Samarinda Mulai Tumbuh, Susur Sungai Mahakam Disiapkan Jadi Prioritas Baru

Teks: Aktivitas wisata susur Sungai Mahakam di Samarinda. Pemkot Samarinda menyiapkan pengembangan destinasi yang berpotensi meningkatkan PAD. (istimewa)

Samarinda, Infosatu.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai memetik hasil dari program pendampingan destinasi wisata yang selama ini dijalankan.

Selain meningkatkan kualitas pengelolaan objek wisata, program tersebut juga mendorong bertambahnya kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda Diana Pida Juliadi mengatakan sejumlah destinasi wisata binaan kini telah memberikan pemasukan bagi daerah melalui pajak dari penjualan tiket masuk.

“Destinasi yang sudah menerapkan tiket masuk menyetorkan pajak sebesar 10 persen kepada pemerintah daerah. Ini menunjukkan ada perkembangan yang positif,” ungkapnya.

Menurut Diana, pembinaan selama tahun ini difokuskan pada empat destinasi wisata yang ditetapkan melalui SK Wali Kota Samarinda, yakni Desa Budaya Pampang, Kampung Tenun, Kampung Ketupat, dan Bukit Steling.

Masing-masing destinasi dikembangkan sesuai karakteristik dan potensi yang dimiliki. Kampung Tenun menawarkan pengalaman melihat langsung proses pembuatan Sarung Samarinda, sedangkan Kampung Ketupat menghadirkan wisata edukasi berbasis budaya dan kuliner lokal.

Adapun Desa Budaya Pampang tetap menjadi daya tarik utama wisata budaya, sementara Bukit Steling dikembangkan sebagai destinasi wisata alam dengan panorama Kota Samarinda.

Program pendampingan tersebut berlangsung sekitar lima bulan dengan melibatkan akademisi dari Politeknik Negeri Samarinda dan Ketua Putri Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI).

Selain objek wisata, pembinaan juga menyasar sektor penunjang seperti hotel dan guest house agar mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta memperkuat promosi kepada wisatawan.

Ke depan, Disporapar Samarinda akan memprioritaskan pengembangan kawasan wisata yang dinilai memiliki peluang lebih besar dalam menghasilkan PAD. Salah satu yang menjadi perhatian adalah wisata susur Sungai Mahakam.

Menurut Diana, pengembangan destinasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga menciptakan pola wisata yang lebih rutin dan terhubung dengan sektor perhotelan maupun jasa pendukung lainnya.

Namun upaya tersebut dihadapkan pada keterbatasan anggaran yang cukup signifikan. Efisiensi belanja pemerintah membuat alokasi bidang pariwisata turun drastis dari sekitar Rp3,6 miliar menjadi hanya sekitar Rp400 juta.

Dampaknya, jumlah tenaga pendamping yang sebelumnya empat orang akan dikurangi menjadi dua orang pada 2027. Beberapa kegiatan pendukung seperti perjalanan dinas, pameran luar daerah, hingga sejumlah aktivitas operasional juga terpaksa dipangkas.

Meski demikian, Pemkot Samarinda memastikan program yang dinilai strategis, terutama festival budaya, tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga eksistensi pariwisata daerah.

“Festival budaya tetap kami upayakan berjalan karena menjadi bagian penting dalam promosi dan pengembangan pariwisata Samarinda,” pungkas Diana.

Related posts

Gas Subsidi Terjaga, Inflasi Samarinda Tetap Stabil di Tengah Kenaikan BBM

Ratu

Dampak Efisiensi, Anggaran Pariwisata Tersisa Rp400 Juta

Emmy Haryanti

Kejar PAD Rp200 Miliar, Samarinda Berharap pada Kesediaan Warga Bayar Parkir Tahunan

Emmy Haryanti