Samarinda, infosatu.co – Struktur ekonomi Kota Samarinda yang tidak bergantung pada sektor sumber daya alam (SDA) dinilai menjadi keunggulan dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan, di tengah dinamika ekonomi global dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda Supriyanto, dalam Musyawarah Kota (Muskot) VIII Kadin Kota Samarinda di Hotel Ibis Samarinda, Sabtu, 2 Mei 2026.
“Kalau kabupaten atau kota lain banyak bertumpu pada pertambangan, di Samarinda berbeda. Kita lebih kuat di konstruksi, perdagangan dan jasa,” kata Supriyanto.
Menurutnya, karakter ekonomi tersebut membuat Samarinda relatif lebih stabil dibanding daerah yang bergantung pada sektor ekstraktif.
“Kalau berbicara SDA, pasti akan habis. Sementara sektor jasa dan perdagangan ini lebih sustain karena langsung melibatkan aktivitas masyarakat,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui adanya pergeseran kontribusi sektor ekonomi, terutama konstruksi yang sebelumnya dominan namun mulai tertekan akibat efisiensi anggaran.
“Awalnya sektor konstruksi cukup dominan, tapi dengan adanya efisiensi, kontribusinya mulai menurun. Ini perlu diantisipasi dengan penguatan sektor lain,” ujarnya.
Dalam konteks pembangunan IKN, Supriyanto menilai Samarinda menghadapi tantangan besar untuk tetap menjaga daya saing ekonomi daerah.
“Dengan adanya IKN, ini menjadi tantangan besar. Bagaimana kita menjaga perekonomian Samarinda agar tetap tumbuh dan bisa berperan dalam kawasan tersebut,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya data yang akurat sebagai dasar perencanaan kebijakan ekonomi yang tepat sasaran.
“Kita sangat membutuhkan data yang kuat, agar perencanaan kebijakan ke depan bisa menentukan sektor mana yang perlu diperkuat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BPS akan melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 yang mencakup 22 sektor usaha dengan pendekatan yang lebih komprehensif dibandingkan sensus sebelumnya.
“Tahun ini sensus ekonomi akan kita lakukan dengan cakupan lebih luas. Berbeda dengan 2016, sekarang sektor pertanian juga kita masukkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan metode sensus juga menyesuaikan perkembangan zaman, termasuk pola konsumsi dan digitalisasi transaksi.
“Sekarang pola belanja sudah berubah, penggunaan QRIS meningkat, model usaha juga berkembang. Ini belum terakomodasi di sensus sebelumnya,” katanya.
Menurutnya, pembaruan data tersebut penting untuk menghasilkan perhitungan ekonomi yang lebih akurat, termasuk dalam penggunaan harga konstan.
“Harga konstan yang digunakan saat ini masih mengacu pada sensus 2016. Dengan pembaruan ini, kita harapkan lebih relevan dengan kondisi sekarang,” ujarnya.
Pelaksanaan sensus ekonomi dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 dengan metode pendataan langsung ke pelaku usaha.
“Kita akan mulai dari Mei sampai Agustus dengan metode door-to-door untuk memastikan seluruh pelaku usaha terdata,” katanya.
Selain itu, Supriyanto juga melihat peluang pengembangan ekonomi Samarinda melalui sektor akomodasi dan transportasi, terutama untuk menangkap potensi pergerakan penduduk akibat pembangunan IKN.
“Sektor akomodasi dan transportasi punya potensi besar. Kita bisa dorong melalui pengembangan pariwisata untuk menarik pendatang sekaligus menggerakkan sektor lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan pemerintah provinsi juga diperlukan untuk mendorong proyek strategis yang berdampak langsung pada perekonomian daerah.
“Perlu sinergi, terutama untuk proyek yang kewenangannya di provinsi tapi berdampak ke Samarinda,” pungkasnya.
