infosatu.co
PARIWISATA

Bukit Steling, Spot Sunset dan City Lights di Jantung Samarinda dengan View Sungai Mahakam

Teks: View dari Bukit Steling dengan hamparan Sungai Mahakam. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, infosatu.co – Di tengah hiruk pikuk Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) ada satu tempat yang menawarkan ketenangan sekaligus tantangan ringan bagi tubuh. Namanya Bukit Steling.

Teks: Jalur pendakian Bukit Steling yang ada di tengah permukiman warga. (Infosatu.co/Adi)

Bukit Steling ini sebuah destinasi wisata alam yang perlahan menjadi favorit warga untuk melepas penat, berolahraga ringan, sekaligus menikmati panorama Kota Samarinda dari ketinggian.

Tak perlu perjalanan jauh atau persiapan rumit. Dari pusat kota, pengunjung hanya perlu menuju kawasan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir.

Uniknya, akses menuju Bukit Steling justru dimulai dari sebuah gang kecil di tengah permukiman warga. Dari sinilah petualangan singkat menuju puncak dimulai.

Pendakian Singkat, Tantangan Menarik untuk Pemula

Setelah membayar uang parkir, pengunjung akan diarahkan ke jalur trekking awal.

Sebetulnya untuk sampai kepuncak, tersedia beberapa rute. Namun, kami disarankan untuk menggunakan rute pertama yang dinilai aman untuk pemula.

Meskipun dinilai aman, kami langsung dihadapkan dengan jalur beton yang cukup menanjak dan memanjang. Di titik inilah napas mulai diuji, meski suasana sekitar yang relatif sunyi dan sapaan ramah warga sekitar membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Selepas jalur menanjak, trek berubah menjadi tanah dan bebatuan dengan kemiringan yang lebih curam. Tantangan pun terasa lebih nyata.

Tepat saat kami mengunjungi destinasi ini, Minggu, 26 April 2026, cuaca Samarinda masih terik, tak ada rasanya angin sepoy-sepoy sepanjang perjalanan.

Meski begitu, rasa penasaran akan pemandangan di atas puncak seolah memanggil setiap langkah.

Waktu tempuh menuju puncak relatif singkat, sekitar 15-30 menit dari titik awal.

Jika sudah bertemu warung kecil di tengah pendakian atau ‘rest area’, itu pertanda separuh perjalanan telah terlewati.

Bagi pengunjung yang baru pertama kali mendaki, disarankan membawa minum yang cukup dan datang bersama teman demi keamanan dan kenyamanan.

Panorama 360 Derajat Kota Samarinda

Lelah pendakian terbayar lunas begitu mencapai puncak. Dari ketinggian sekitar 117 meter di atas permukaan laut, Bukit Steling menyuguhkan pemandangan 360 derajat Kota Samarinda yang memukau.

Sungai Mahakam tampak berkelok membelah kota, dengan kapal-kapal besar dan ponton yang melintas setiap hari terlihat seperti miniatur bergerak dari kejauhan.

Di sisi lain, hamparan bangunan kota, perbukitan, hingga Jembatan Mahakam berdiri menghiasi lanskap Kota Pesut Mahakam.

Jika pengunjung bertahan hingga sore dan didukung dengan cuaca yang bagus, akan ada bonus dengan sunset yang perlahan menurunkan cahaya keemasan di balik cakrawala.

Sementara saat malam tiba, city lights Samarinda menyala satu per satu, menciptakan suasana yang membuat banyak orang betah duduk lama, sekadar menikmati angin dan pemandangan.

Wisata Sekaligus Ruang Olahraga Warga

Alwi, yang merupakan bagian dari pendiri Bukit Steling, menjelaskan sejak awal tempat ini memang dirancang sebagai destinasi wisata.

Namun seiring waktu, fungsi Bukit Steling berkembang menjadi ruang aktivitas masyarakat.

“Tujuan awalnya memang wisata. Tapi kami juga melihat treknya yang menanjak dan tidak beraturan, sehingga bisa menjadi ajang olahraga masyarakat,” ujar Alwi kepada infosatu.co.

Menurutnya, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan kota dan sunset, tetapi juga merasakan tantangan fisik ringan dari jalur pendakian.

Kombinasi wisata dan olahraga inilah yang membuat Bukit Steling diminati berbagai kalangan.

Asni menambahkan, di puncak Bukit Steling banyak hal yang bisa dinikmati pengunjung.

“Fasilitasnya kami buat cukup lengkap. Ada bangku dan meja di setiap sisi untuk bersantai, kantin, gazebo, toilet, hingga area camping. Untuk musala sementara masih menggunakan gazebo yang tersedia,” jelasnya.

Fasilitas Lengkap dan Tiket Terjangkau

Pengelola juga terus melakukan pembenahan fasilitas. Di malam hari, area puncak telah dilengkapi lampu-lampu hias yang menambah kesan estetik sekaligus membantu penerangan.

Soal tiket, pengunjung memang dikenakan pembayaran dua kali, yakni saat parkir dan saat memasuki area puncak Bukit Steling.

– Hari biasa: Rp5.000
– Hari libur atau hari besar: Rp10.000

Artinya, pada hari besar, pengunjung cukup menyiapkan sekitar Rp20.000 untuk menikmati panorama Kota Samarinda dari ketinggian.

Bagi yang ingin camping, tarifnya Rp10.000 pada hari biasa dan Rp15.000 saat akhir pekan atau hari besar. Menariknya, biaya tersebut sudah termasuk tikar gratis dan akses listrik untuk mengisi daya perangkat elektronik.

Fokus Pengembangan 2026 dan Ajakan untuk Warga

Memasuki 2026, pengelola Bukit Steling menyebutkan pengembangan fasilitas akan difokuskan pada pembangunan musala permanen, mengingat kebutuhan ibadah pengunjung yang terus meningkat.

“Kami juga terus berusaha meningkatkan kualitas fasilitas agar pengunjung merasa aman dan kebutuhannya tercukupi,” kata Alwi.

Keduanya turut mengajak warga Samarinda, khususnya generasi muda, untuk meramaikan dan mengenalkan Bukit Steling lebih luas.

Bahkan, pengelola membuka peluang bagi komunitas yang ingin mengadakan kegiatan seperti senam, jogging, atau event lari, dengan akses yang diberikan secara gratis.

“Silakan datang dan nikmati keindahan Kota Samarinda dari puncak Steling. Kami ingin tempat ini menjadi ruang bersama,” tutup Alwi.

Dengan akses mudah, panorama menawan, serta fasilitas yang terus dikembangkan, Bukit Steling kini bukan sekadar tempat melihat kota dari atas, melainkan ruang singgah bagi warga yang ingin berhenti sejenak dari rutinitas dan kembali menyapa alam.

Related posts

Murah dan Lengkap, Deboekit Riverside Resort Simpan Potensi Wisata Besar di Balikpapan Timur

Firda

Senja Jadi Magnet, Pantai Kilang Mandiri di Balikpapan Selalu Dipadati Pengunjung

Firda

Libur Lebaran Theme Park Samarinda Dikunjungi 1.500 Orang per Hari

Firda