Beijing, infosatu.co – ZGC AI International Service Hub (ASEAN), atau Stasiun Layanan Ekspansi Global Perusahaan Kecerdasan Buatan Zhongguancun (ASEAN) baru-baru ini resmi diluncurkan di Beijing.
Anak perusahaan luar negeri China Galaxy Securities, CGS International, akan memanfaatkan keunggulan sumber daya di kawasan ASEAN untuk menyediakan layanan perbankan investasi profesional bagi perusahaan kecerdasan buatan China dalam memperluas pasar ASEAN.
Informasi tersebut diperoleh pewarta dalam ajang Zhongguancun Forum Annual Conference 2026 yang baru-baru ini digelar di Beijing. Forum tersebut menarik partisipasi perwakilan pemerintah, pakar, akademisi, eksekutif perusahaan, serta pimpinan organisasi internasional dari China dan negara-negara ASEAN untuk bersama-sama membahas jalur baru kerja sama inovasi teknologi dan pembangunan regional.

Sejumlah tamu yang hadir menyatakan China dan ASEAN memiliki kedekatan geografis serta saling melengkapi dalam struktur industri, dengan prospek kerja sama yang luas di bidang ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), teknologi hijau, dan biomedis.
ASEAN merupakan salah satu kawasan ekonomi paling dinamis di dunia sekaligus mitra penting dalam pembangunan bersama Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra.
Tahun ini menandai peringatan lima tahun hubungan kemitraan strategis komprehensif antara China dan ASEAN. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan China-ASEAN Free Trade Area 3.0 terus berjalan dengan stabil.
Sementara manfaat RCEP terus dirasakan, memberikan jaminan kelembagaan yang kuat bagi pendalaman kerja sama kedua pihak.
“Skala perdagangan dan investasi kedua pihak terus mencetak rekor baru, keterkaitan rantai industri dan rantai pasokan semakin erat, serta kerja sama di bidang ekonomi digital dan ekonomi hijau juga berkembang pesat,”ungkap Ketua ASEAN Economic and Trade Promotion Association, Bo Shanglang.
Menurutnya, negara-negara ASEAN memiliki kebutuhan yang kuat atas transformasi digital, sementara China telah mengumpulkan pengalaman yang kaya di bidang AI, maha data, dan komputasi awan.
Ke depannya, kedua pihak perlu mendorong lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan perusahaan untuk membangun hubungan yang lebih erat, termasuk melalui pendirian laboratorium bersama, pusat transfer teknologi, dan inkubator inovasi.
Selain itu, perlu dijajaki mekanisme koordinasi kebijakan yang dapat mendukung mobilitas faktor inovasi hingga ke lintas perbatasan, sehingga talenta, teknologi, modal, dan data dapat mengalir lebih lancar di seluruh kawasan.
“Kami fokus pada konektivitas infrastruktur digital, mendorong pembangunan kabel optik lintas perbatasan, penerapan jaringan 5G, serta pembangunan kota pintar,”urainya melalui siaran pers yang diterima redaksi, Selasa, 31 Maret 2026.
“Di bidang kendaraan energi baru, energi terbarukan, dan keuangan hijau, kedua pihak dapat memperkuat pertukaran teknologi serta bersama-sama menciptakan titik pertumbuhan baru,” sambung Bo Shanglang.
“Asia Tenggara merupakan pasar konsumsi besar bagi inovasi teknologi, dan Indonesia telah menjadi inti transformasi digital di ASEAN,” ujar Pendiri ATM Capital, Qu Tian.
Dia menjelaskan bahwa sektor e-commerce di Indonesia berkembang pesat dengan potensi konsumsi yang besar. Perusahaan logistik e-commerce China, J&T Express, yang didirikan dan berkembang di Indonesia selama lebih dari 10 tahun, kini telah menjadi perusahaan logistik terbesar di Asia Tenggara dengan volume pengiriman harian melebihi 120 juta paket.
“Dulu pengiriman satu paket di Indonesia bisa memakan waktu lima hingga tujuh hari, kini pada dasarnya hanya membutuhkan dua hingga tiga hari. Efisiensi meningkat secara signifikan dan turut mendorong lebih banyak masyarakat menggunakan platform e-commerce,” tuturnya.
General Manager Departemen Komersial Sembcorp Development Ltd., Wu Junjie, menyebut Indonesia memiliki populasi lebih dari 100 juta jiwa dengan pasar konsumsi yang luas, ekonomi digital yang berkembang pesat, serta aplikasi AI yang tumbuh secara signifikan.
“Indonesia memiliki kelompok konsumen digital terbesar di ASEAN, membutuhkan dukungan algoritma tingkat dasar seperti Zhongguancun dan penerapan skala besar di industri. Pasar negara ini memiliki kebutuhan kuat atas solusi teknologi, dan potensi kerja sama di masa depan sangat besar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Singapore Chinese Chamber of Commerce in China, Wang Ziyuan, menilai kerja sama China dan ASEAN kini sedang bergerak dari perdagangan tradisional menuju sinergi inovasi, sinergi industri, dan sinergi ekosistem yang lebih mendalam.
China memiliki kapasitas inovasi yang kuat, fondasi industri yang lengkap, serta skenario aplikasi yang luas, sehingga memiliki keunggulan komplementer dengan ASEAN.
Kamar dagang tersebut saat ini menghubungkan berbagai kota utama di China dengan jaringan sumber daya Singapura untuk melayani perusahaan-perusahaan China yang ingin memasuki pasar Singapura dan ASEAN dengan lebih baik.
Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama inovasi teknologi antara Beijing dan ASEAN telah membuahkan hasil yang signifikan. Pada Oktober tahun lalu, Promosi Perdagangan dan Investasi China (Beijing Sub-center)-ASEAN berhasil diselenggarakan, dengan pembentukan dana kerja sama rantai industri dan rantai pasokan.
Sejumlah perusahaan Beijing menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan dari Indonesia dan Malaysia di bidang perdagangan hijau dan pemantauan energi pintar.
Pada bulan yang sama, Kawasan Pengembangan Ekonomi-Teknologi Beijing juga mengorganisir perusahaan untuk berpartisipasi dalam Pameran Pembangunan Berkelanjutan Asia Tenggara, dengan lebih dari 80 proyek kerja sama potensial berhasil dicapai.
Zhongguancun Development Group sebagai platform layanan inovasi teknologi yang didirikan oleh Pemerintah Kota Beijing, saat ini telah menjalin kerja sama dengan 20 perusahaan teknologi Zhongguancun dan mencapai hampir 10 kesepakatan proyek dengan Singapura di bidang transportasi pintar
Kemudian dengan Malaysia di bidang pembangunan pusat data, serta Indonesia di bidang pemerintahan digital. Solusi teknologi pun disesuaikan secara tepat dengan kebutuhan pasar ASEAN.
Ketua China Galaxy Securities Co., Ltd., Wang Sheng, menyebut bahwa perekonomian ASEAN menunjukkan ketahanan yang kuat dan potensi besar. Dalam konteks era baru, kerja sama inovasi antara China dan ASEAN sedang bertransformasi dari ekspor produk atau layanan tunggal menuju tata letak seluruh rantai industri, serta dari manufaktur tradisional menuju bidang-bidang baru seperti teknologi AI dan teknologi hijau.
“Di masa depan, kerja sama China dan ASEAN akan melampaui sekadar keterhubungan industri dan bergerak menuju tahap yang lebih tinggi, yaitu pembangunan ekosistem bersama dan berbagi hasil,” ungkap Wang Sheng.
