Bontang, infosatu.co – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengimbau masyarakat untuk tidak berenang di laut maupun perairan yang berpotensi menjadi habitat buaya.
Imbauan ini disampaikan menyusul meningkatnya laporan kemunculan buaya di sejumlah wilayah pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim).
Neni mengatakan, berdasarkan laporan masyarakat, sepanjang 2025 tercatat sekitar 25 kasus kemunculan buaya di berbagai kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga.
“Karena itu masyarakat harus lebih berhati-hati. Sebaiknya tidak berenang di laut demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya saat ditemui di pendopo rujab wali kota, Minggu, 8 Maret 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan buaya di wilayah Bontang tidak hanya ditemukan di kawasan rawa atau sungai, tetapi juga dapat muncul di perairan laut.
Kondisi ini membuat masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan.
Kekhawatiran masyarakat terhadap kemunculan buaya juga sempat menguat setelah insiden serangan terhadap seorang anak berusia 12 tahun yang terjadi di kawasan rawa di Kelurahan Loktuan beberapa waktu lalu.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat akan potensi bahaya satwa predator itu di sekitar permukiman warga.
Menurut Neni, kemunculan buaya di sekitar permukiman diduga juga dipicu oleh ketersediaan sumber makanan di perairan, salah satunya limbah ikan yang dibuang ke laut.
“Buaya memiliki penciuman yang sangat kuat. Kalau ada limbah ikan yang dibuang ke laut, tentu mereka akan datang,” jelasnya.
Selain faktor makanan, populasi buaya di wilayah pesisir juga berpotensi meningkat karena kemampuan reproduksi yang cukup tinggi.
Dalam sekali masa berkembang biak, seekor induk buaya dapat menghasilkan sekitar 30 butir telur.
“Kalau kita lihat dari kemampuan berkembang biaknya, populasi buaya ini bisa bertambah cukup cepat,” katanya.
Untuk mengantisipasi potensi konflik antara manusia dan satwa liar tersebut, Pemerintah Kota Bontang juga telah melakukan koordinasi dengan dinas terkait serta lembaga yang menangani konservasi wilayah pesisir.
Dalam pembahasan tersebut, sempat mencuat usulan pengadaan senapan bius guna membantu proses penanganan buaya di lapangan. Peralatan ini dinilai dapat mempermudah petugas saat harus melakukan evakuasi dari jarak aman.
“Kalau buaya berada di air tentu sulit untuk ditangkap. Karena itu ada usulan penggunaan senapan bius agar bisa ditangani dari jarak aman,” ujarnya.
Neni menegaskan, langkah utama saat ini adalah meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama di kawasan pesisir dan perairan yang dekat dengan permukiman.
“Kita semua harus saling mengingatkan dan menjaga lingkungan agar tetap aman bagi masyarakat,” pungkasnya. (Adv)
