Penulis: Lydia – Editor: Irfan
Bontang, infosatu.co – Dokter Spesialis Gizi Klinik merupakan profesi khusus. Bahkan di Indonesia hanya ada sekitar 300 dokter Spesialis Gizi Klinik, Kota Bontang sendiri hanya mempunyai satu dokter Spesialis Gizi Klinik di RSUD Taman Husada Bontang yakni dokter Wijayanto.
Ia lahir di Kota Purwokerto pada 22 Februari 1974. Namun sejak kecil tinggal di Kota Taman tepatnya Perumahan BTN PKT. Dokter yang hobi olahraga dan fotografi ini merupakan alumni Yayasan Pupuk Kaltim dari SD hingga SMA, ia juga alumni S1 Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Agung Semarang.
Selanjutnya ia mengambil jurusan Spesialis Gizi Klinik di Universitas Diponegoro Semarang dengan beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Kota Bontang.
Karena untuk sekolah spesialis itu modalnya luar biasa, Wijayanto mengaku senang mendapatkan kesempatan tersebut. Ia mengambil Spesialis Gizi Klinik karena tertarik dan dirasa saat itu lagi booming.
Ada rasa penasaran yang besar dalam diri Wijayanto. Kata dia saat itu, apa benar semua orang bisa mengerti tentang gizi tanpa sekolah, hanya kursus dan membaca buku. Namun ternyata tidak semudah itu setelah dia memutuskan melanjutkan pendidikannya, ia pun mendalami masalah gizi dengan niat yang besar.
“Jika sudah dalam pendidikan kedokteran dan ingin menyerah maka upgrade kembali niat untuk menjadi dokter,” kata Wijayanto pada infosatu.co, Rabu (17/6/2020).
Sebelum menjadi dokter di RSUD Taman Husada Bontang, ia sempat berkerja di Klinik Polres Bontang dan beberapa Klinik lainnya. Banyak suka duka selama Wijayanto menjadi dokter. Salah satunya yaitu, hampir 24 jam waktunya tersita untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri atau pun keluarga.
Oleh karena itu, diusianya saat ini lebih banyak melakukan aktivitas olahraga bersepeda dan lari agar stamina selalu terjaga. Sehingga mampu memberikan pelayanan prima ke masyarakat yang membutuhkan.
Saat ini Wijayanto menjabat anggota advokasi dan legislasi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) cabang Kalimantan sebagai wakil ketua. Ia juga merupakan Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) cabang Kalimantan dan Kepala Instalasi Gizi RSUD Bontang, sebelum menjadi tenaga fungsional, ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pendidik dan Pengembangan SDM dan Kepala seksi Pelayanan RSUD Taman Husada Bontang.
Wijayanto aktif menjadi narasumber diberbagai kegiatan dan berkeinginan mengubah mindset masyarakat tentang Gizi Klinik. Jika banyak yang beranggapan bahwa Ahli Gizi dan Spesialis Gizi Klinik itu sama, maka ditegaskan Wijayanto bahwa itu adalah hal berbeda.
Ahli Gizi merupakan tenaga kesehatan lainnya yang berasal dari non medis dan bukan seorang dokter, sehingga tidak dapat memberikan terapi gizi. Hal ini sesuai dengan amanat undang-undang praktek kedokteran, hanya dokter yang dapat memberikan terapi.
Bisa dikatakan bahwa ada kebijakan dan kewenangan berbeda yang bisa dilakukan dokter spesialis dibandingkan ahli gizi.
“Ahli gizi sama dengan perawat, mereka bukan tenaga medis melainkan paramedis. Ahli Gizi tidak boleh memberikan terapi, hanya boleh memberikan asuhan sesuai dengan kewenangan mereka,” jelasnya.
Perlu diketahui bahwa dokter gizi tidak hanya memberikan solusi pada orang yang berat badannya berlebihan dan langsing. Namun juga memberikan terapi pada kondisi penyakit tertentu, seperti penderita kencing manis, stroke, gagal ginjal, darah tinggi, post pembedahan, penderita sakit jantung dan lainnya.
Misalnya penderita jantung diputuskan memakai ring dikarenakan pembuluh darah menyempit namun tidak dikelola terapi gizi pada penyakit yang mendasarinya. Bahkan kolestrol, asam urat, dan berat badannya tidak dikelola.
“Padahal semua itu harus diterapi secara holistik (menyeluruh), termasuk terapi gizi terkait pola makan dan berat badannya. Makanan itu merupakan terapi dan obat jadi harus diatur dan dilakukan secara bersamaan,” ucapnya.
Wijayanto juga mengungkapkan banyak menangani pasien rewel. Cara ia menghadapinya yaitu dengan memberikan edukasi pemahaman serta mengubah mindset mereka untuk menkonsumsi makanan yang dibutuhkan saja, bukan yang diinginkan.
