infosatu.co
KESEHATAN

Usai Pesta Daging Iduladha, Waspada Ancaman Kesehatan Mulai Mengintai

Teks: Ilustrasi AI

Samarinda, infosatu.co – Aroma sate, gulai, sop konro, hingga coto masih terasa di banyak rumah warga meski Iduladha mulai memasuki hari kedua. Stok daging kurban yang memenuhi kulkas membuat sebagian masyarakat masih menikmati berbagai olahan daging hampir di setiap waktu makan.

Namun di balik suasana silaturahmi dan tradisi makan bersama keluarga, tenaga kesehatan mulai mengingatkan kita agar tidak berlebihan mengonsumsi daging, terutama yang diolah dengan santan, garam tinggi, serta dibakar secara berulang.

Momentum pasca-Iduladha disebut menjadi periode yang cukup rawan bagi sebagian warga, khususnya mereka yang memiliki riwayat hipertensi, kolesterol, asam urat, hingga gangguan lambung.

Di sejumlah keluarga, menu makan sejak pagi hingga malam nyaris tidak jauh dari sate, rendang, tongseng, semur, hingga iga bakar. Kebiasaan itu memang menjadi bagian dari tradisi tahunan yang sulit dipisahkan dari Hari Raya Kurban.

“Kalau sudah Iduladha biasanya sehari bisa makan daging dua sampai tiga kali. Pagi coto, siang sate, malam gulai lagi,” ujar Sakmawati warga Kampung Kajang sambil bercanda.

Diakuinya, memang menu tersebut terasa nikmat, akan tetapi pola konsumsi seperti itu dinilai perlu diimbangi dengan pengaturan makan yang lebih sehat. Sebab, konsumsi daging merah secara berlebihan dalam waktu singkat bisa memicu berbagai keluhan kesehatan.

“Ya ini aja sudah mulai pusing, bayangin aja ini sudah hari kedua makan daging terus. Tapi memang sudah jadi tradisi kalau Iduladha kaya gini,” ucapnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan pola konsumsi makanan selama Iduladha, terutama terkait asupan gula, garam, dan lemak yang cenderung meningkat saat perayaan kurban.

Dalam sejumlah imbauannya, Kemenkes juga menyarankan masyarakat membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol. Namun memperbanyak buah dan sayur, serta tetap menjaga aktivitas fisik selama libur Iduladha.

Selain itu, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi daging secara berlebihan dalam sekali makan. Sebab, pola makan yang tidak terkontrol dapat memicu kenaikan tekanan darah, kolesterol, hingga gangguan pencernaan.

Kemenkes juga menyarankan masyarakat memilih bagian daging rendah lemak dan menghindari jeroan yang memiliki kandungan kolesterol cukup tinggi. Selain itu, pengolahan dengan cara direbus atau dipanggang lebih dianjurkan dibanding terlalu banyak menggunakan santan maupun minyak.

Tak hanya itu, kebiasaan menghangatkan masakan bersantan secara berulang juga dinilai kurang baik bagi kesehatan. Proses pemanasan berulang dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh pada makanan.

Selain menjaga pola makan, masyarakat juga diingatkan memperbanyak konsumsi air putih dan tetap mengonsumsi sayur serta buah agar tubuh tetap seimbang setelah mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak.

Kemenkes menganjurkan agar daging disimpan dalam porsi kecil di freezer sehingga lebih mudah diolah sesuai kebutuhan dan kualitasnya tetap terjaga.

Pasca-Iduladha memang selalu menghadirkan dua hal yang berjalan beriringan: kehangatan tradisi makan bersama dan tantangan menjaga pola hidup sehat.

Di tengah nikmatnya sajian daging kurban, masyarakat diingatkan untuk tetap bijak mengatur konsumsi agar tubuh tidak protes setelah pesta kuliner Iduladha.

Related posts

Diabetes Tak Lagi Identik dengan Lansia, Warga Usia 20-an Mulai Banyak Terdeteksi

Emmy Haryanti

Vaksinasi Rabies di Samarinda Belum Capai Target, DKPP Fokus Cegah Penularan dari Hewan Pembawa Virus

Emmy Haryanti

Mencegah Selalu Lebih Baik Dari Pada Mengobati

Firda