Samarinda, Infosatu.co – Banjir yang merendam kawasan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir, pada 15–18 Juni lalu dinilai menjadi sinyal bahwa persoalan drainase dan aliran sungai di kawasan tersebut sudah memasuki tahap serius.
DPRD Samarinda menilai penyebab banjir tidak hanya berasal dari curah hujan tinggi, tetapi juga dipengaruhi persoalan tata sungai yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Anggota DPRD Samarinda Suparno mengatakan genangan yang mencapai sekitar 80 sentimeter menunjukkan bahwa banjir di kawasan Selili tidak lagi bisa dipandang sebagai kejadian musiman yang akan surut dengan sendirinya.
Menurutnya, persoalan tersebut merupakan dampak dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari besarnya debit air kiriman dari wilayah hulu hingga menurunnya kapasitas aliran sungai di kawasan terdampak.
“Luapan air di Jalan H Marhusein itu berasal dari wilayah Sambutan. Selili hanya menerima dampaknya. Karena itu penyelesaiannya tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja,” katanya.
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan dan informasi yang diterimanya dari warga, salah satu persoalan utama terletak pada kapasitas anak sungai yang sudah tidak mampu lagi menampung volume air yang datang dari kawasan hulu.
Idealnya, aliran air dari wilayah Sambutan mengalir melalui sejumlah anak sungai menuju Sungai Kapih sebelum bermuara ke Sungai Mahakam. Namun kondisi sungai saat ini dinilai tidak lagi optimal akibat sedimentasi yang terjadi selama bertahun-tahun.
Selain pendangkalan sungai, keberadaan bangunan yang memanfaatkan sebagian badan sungai juga disebut menjadi faktor yang memperlambat aliran air. Akibatnya, ketika debit air meningkat, sungai tidak mampu menampung volume yang ada sehingga meluap ke permukiman warga.
“Penyebabnya cukup kompleks. Selain alur sungai yang berkelok, volume air kiriman dari Sambutan juga besar. Sementara kapasitas anak sungai saat ini sudah tidak memadai,” jelasnya.
Karena itu, Suparno menilai langkah normalisasi sungai perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari solusi jangka panjang. Namun, upaya tersebut membutuhkan dukungan masyarakat karena berpotensi berdampak pada bangunan yang berdiri di bantaran maupun di atas badan sungai.
Menurutnya, pemerintah akan menghadapi tantangan besar apabila normalisasi dilakukan, mengingat masih terdapat sejumlah bangunan yang memanfaatkan area aliran sungai.
“Warga juga harus siap jika dilakukan normalisasi. Banyak bangunan yang sebagian berdiri di atas sungai. Kalau memungkinkan, anak sungai yang ada nantinya bisa dibuat sodetan,” terangnya.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menegaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi pemerintah. Mengingat persoalan yang terjadi melibatkan kawasan hulu hingga hilir, maka diperlukan koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah.
Ia mendorong pemerintah kelurahan, kecamatan, Pemerintah Kota Samarinda, hingga anggota DPRD dari daerah pemilihan Samarinda Ilir, Samarinda Kota, dan Sambutan untuk bersama-sama menyusun langkah penanganan yang terukur.
“Keterlibatan seluruh pemangku kepentingan menjadi penting agar solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat sementara, melainkan mampu mengurangi risiko banjir dalam jangka panjang,” urainya.
Meski mengakui kondisi keuangan daerah saat ini masih berada dalam masa efisiensi, ia menilai pembangunan infrastruktur dasar yang berkaitan dengan pengendalian banjir tetap harus menjadi prioritas.
Karena itu, Suparno mengajak delapan anggota DPRD Samarinda lainnya yang berasal dari Daerah Pemilihan I untuk berkolaborasi mencari solusi, termasuk melalui pengalokasian pokok-pokok pikiran (pokir) dewan guna mendukung peningkatan kapasitas drainase dan sistem pengendalian banjir di kawasan Selili.
“Kan ada sembilan anggota DPRD dari dapil ini. Saya mengajak bersama-sama mencari solusi, termasuk menyisihkan pokir untuk peningkatan drainase di kawasan tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mengurangi risiko banjir. Menurutnya, saluran drainase lingkungan harus dijaga agar tetap bersih dan tidak tersumbat sampah sehingga aliran air dapat berjalan lebih lancar saat hujan turun.
“Kepedulian terhadap lingkungan juga penting. Drainase harus rutin dibersihkan supaya ketika hujan turun, genangan bisa berkurang,” pungkasnya.
