Samarinda, Infosatu.co – Ketersediaan tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan kualitas pelayanan medis bagi masyarakat. Di tengah jumlah penduduk Samarinda yang mendekati 900 ribu jiwa, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda memastikan layanan kesehatan tetap berjalan optimal meski distribusi tenaga kesehatan di sejumlah wilayah masih belum merata.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengungkapkan, secara keseluruhan jumlah dokter, perawat, bidan, hingga tenaga kefarmasian di Kota Tepian masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, seluruh puskesmas di Samarinda telah memenuhi standar minimal tenaga kesehatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 19 Tahun 2024 tentang Puskesmas.
“Untuk fasilitas kesehatan primer jumlahnya cukup. Sesuai regulasi, ada sembilan profesi tenaga kesehatan yang wajib tersedia, mulai dari dokter, perawat hingga apoteker,” ungkapnya, Rabu 3 Juni 2026.
Ismed menjelaskan, posisi Samarinda sebagai pusat pendidikan dan layanan kesehatan di Kalimantan Timur (Kaltim) turut mendukung ketersediaan sumber daya manusia di sektor kesehatan.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan tenaga medis, termasuk dokter spesialis di rumah sakit relatif lebih mudah dipenuhi dibandingkan daerah lain.
Selain menjaga ketersediaan tenaga kesehatan, Dinkes Samarinda juga terus memperkuat kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan, terutama rumah sakit milik pemerintah seperti RSUD IA Moeis.
Upaya tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang terus berkembang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Samarinda tahun 2025 yang bersumber dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) jumlah tenaga kesehatan di Samarinda mencapai ribuan orang. Terdiri atas 1.233 dokter, 2.291 perawat, 555 bidan, 409 tenaga kefarmasian, dan 83 ahli gizi.
Jumlah tersebut dinilai cukup untuk melayani penduduk Samarinda yang diperkirakan mencapai 888 ribu hingga 900 ribu jiwa pada 2026.
Meski demikian, tantangan masih ditemukan pada aspek pemerataan tenaga kesehatan. Konsentrasi tenaga medis masih terkumpul di beberapa wilayah tertentu, terutama Kecamatan Samarinda Ulu yang menjadi pusat layanan kesehatan dan pendidikan.
Data menunjukkan Samarinda Ulu memiliki 583 dokter, 1.248 perawat, 172 bidan, 199 tenaga kefarmasian, serta 37 ahli gizi. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah kecamatan lainnya.
Sebaliknya, Kecamatan Sungai Pinang hanya memiliki 13 dokter, satu ahli gizi, 15 perawat, 14 bidan, dan enam tenaga kefarmasian. Sementara Kecamatan Sambutan tercatat memiliki 10 dokter, empat ahli gizi, 22 perawat, 18 bidan, dan tujuh tenaga kefarmasian.
Perbedaan distribusi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, terutama di wilayah dengan jumlah tenaga medis yang lebih terbatas.
Meski terdapat ketimpangan sebaran tenaga kesehatan, Dinkes Samarinda menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berjalan sesuai standar. Pemerintah juga terus melakukan penguatan sistem layanan kesehatan agar kebutuhan warga di seluruh kecamatan dapat terpenuhi secara optimal.
“Sebagai kota besar dan pusat pendidikan, ketersediaan tenaga kesehatan kita masih memadai,” tegas Ismed.
Dengan jumlah tenaga kesehatan yang terus bertambah dan penguatan fasilitas layanan yang berkelanjutan, Samarinda dinilai masih memiliki kapasitas yang cukup untuk menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat di tengah pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat.
