Samarinda, Infosatu.co – Ada pembaca yang masih menikmati suara lembaran saat halaman buku dibalik, sementara sebagian lainnya cukup membuka ponsel untuk mendapatkan bacaan. Di tengah pilihan format yang semakin beragam, kenyamanan membaca ternyata bisa terasa berbeda bagi setiap orang.
Michael, misalnya, masih memilih buku fisik. Baginya, membaca lewat ponsel justru membuat konsentrasi lebih mudah terpecah karena godaan untuk berpindah ke aplikasi lain.
“Kalau baca di HP itu gampang kedistract. Beda aja, enakan baca di buku. Bisa ditandain juga, dibolak-balik lembarnya, disentuh lembar per lembar,” ujarnya di Samarinda, Sabtu, 19 September 2026.
Menurut Michael, gangguan saat membaca melalui ponsel tidak selalu berasal dari notifikasi. Meski tidak ada pemberitahuan yang masuk, keinginan membuka aplikasi lain tetap bisa muncul.
Ia juga merasa buku fisik lebih nyaman karena ukuran halamannya lebih lebar. Sebaliknya, membaca terlalu lama melalui ponsel membuat mata lebih cepat terasa tidak nyaman karena terus menatap layar.
Sementara membaca biasanya ia lakukan ketika memiliki waktu luang, terutama setelah pekerjaan selesai. Saat sudah tidak ada aktivitas lain, ia lebih memilih membaca buku daripada kembali bermain ponsel.
Berbeda dengan Michael, Jessica justru memilih e-book karena alasan kepraktisan. Ia menilai format digital lebih sederhana karena tidak membutuhkan ruang untuk menyimpan buku.
E-book juga dapat dibaca kapan saja dan di mana saja. Dengan ponsel yang selalu dibawa, Jessica tidak perlu membawa buku tambahan ketika ingin membaca.
Tata justru berada di tim Michael. Dirinya masih menikmati buku fisik. Salah satu buku terakhir yang dibacanya adalah biografi Tan Malaka karena ia tertarik mengetahui lebih jauh mengenai sejarah.
Dalam sebulan, jumlah buku yang dibaca Tata tidak selalu sama. Ia bisa membaca sekitar dua hingga empat buku, tergantung waktu luang yang dimiliki.
Tata juga belum pernah membeli buku dalam format e-book. Ia merasa buku fisik tetap memiliki daya tarik tersendiri karena setelah selesai dibaca, buku tersebut masih bisa disimpan sebagai koleksi.
Pilihan ketiganya memperlihatkan bahwa pengalaman membaca tidak selalu ditentukan oleh perkembangan teknologi. Buku fisik menawarkan pengalaman yang lebih lekat dengan halaman dan minim gangguan bagi sebagian pembaca, sedangkan e-book memberikan kemudahan bagi mereka yang mengutamakan kepraktisan.
Pada akhirnya, membaca tetap soal menemukan cara yang paling nyaman bagi masing-masing orang. Ada yang memilih lembaran yang bisa dibolak-balik, ada yang cukup dengan layar ponsel, dan keduanya tetap membawa pembaca pada hal yang sama: menikmati sebuah bacaan.
