infosatu.co
PENDIDIKAN

Kondisi Ekonomi Keluarga di Samarinda Masih Jadi Penentu Anak Bertahan di Sekolah

Teks: Kegiatan MPLS di SMAN 14 Samarinda. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Kemampuan ekonomi keluarga masih menjadi faktor penting yang menentukan apakah seorang anak mampu bertahan di bangku sekolah hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda menilai kebijakan sekolah gratis belum sepenuhnya menghilangkan beban biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarga.

Temuan tersebut disampaikan di tengah tren Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Samarinda yang terus meningkat. Pada 2025, IPM Samarinda tercatat mencapai 83,53, naik dibandingkan 83,11 pada 2024.

Kepala BPS Kota Samarinda Supriyanto mengatakan masih banyak kebutuhan pendidikan yang harus dipenuhi keluarga meski biaya sekolah telah digratiskan pemerintah. Mulai dari biaya transportasi, seragam, hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya.

“Pendidikan memang gratis, tetapi masih ada biaya transportasi, seragam, dan kebutuhan penunjang lainnya. Kalau ekonomi keluarga membaik, kemampuan orang tua mendukung pendidikan anak juga meningkat,” ujarnya, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat aspek ekonomi menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi peningkatan kualitas sumber daya manusia dibandingkan indikator pendidikan maupun kesehatan.

Ia menjelaskan, perubahan tingkat pendapatan masyarakat secara langsung memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan anak, termasuk memastikan mereka tetap melanjutkan pendidikan.

BPS mencatat rata-rata lama sekolah penduduk Kota Samarinda saat ini mencapai 11,4 tahun atau setara kelas XI SMA. Sementara itu, harapan lama sekolah berada di angka 15,41 tahun, atau setara pendidikan diploma.

Meski demikian, Supriyanto menilai peningkatan indikator pendidikan ke depan tidak lagi dapat berlangsung setinggi sebelumnya karena akses pendidikan di Samarinda sudah relatif merata.

Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh anak mampu menyelesaikan pendidikan tanpa terkendala kondisi ekonomi keluarga.

“Sekarang tantangannya bukan hanya menyediakan sekolah, tetapi memastikan anak-anak tidak berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya,” katanya.

Ia menambahkan, pembangunan manusia harus dilakukan secara menyeluruh melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ketika ekonomi keluarga membaik, kesempatan anak untuk menyelesaikan pendidikan juga akan semakin besar,” tutup Supriyanto.

Related posts

Kerja Sama Internasional Hadirkan Pembelajaran Wellness di SD Fastabiqul Khairat Samarinda

Rizki

Tiga Tahun Formasi Guru PLB di Samarinda Sepi Peminat

Emmy Haryanti

SMKN 7 Balikpapan Masih Mangkrak, Kebutuhan Anggaran Rp150 Miliar Belum Terakomodasi pada 2027

Rizki