Samarinda, infosatu.co — Asisten II (Asisten Perekonomian dan Pembangunan) sekaligus Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) Marnabas Patiroy mengungkapkan penyebab keluhan masyarakat terkait kualitas air bersih, khususnya di wilayah Bengkuring.
Menurutnya masalah tersebut dipicu oleh perbedaan kondisi air baku serta adanya endapan pada pipa distribusi yang telah digunakan dalam jangka waktu lama.
“Mengenai keluhan air bangai yang sering terjadi di Bengkuring, itu karena air bakunya memang beda. Kalau kita lihat, sudah terjadi endapan di pipanya sampai menghitam,” jelasnya, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia mengatakan, pembersihan pipa harus dilakukan secara menyeluruh karena kondisi pipa yang semakin menyempit akibat endapan.
“Pembersihan pipa itu beda dengan pembersihan IPA. Karena pipa semakin lama semakin mengecil karena endapan dan dorongan airnya jadi kecil. Kami menggunakan pihak ketiga untuk membersihkannya,” ujar Marnabas.
Dalam upaya penanganan teknis, Pemerintah Kota bersama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) telah memberikan sejumlah instruksi, termasuk melakukan sosialisasi kepada warga melalui Rukun Tetangga (RT) agar air hasil pembersihan tidak langsung ditampung.
“Saya juga sudah minta ke PDAM, kalau ada pembersihan, buka saja kilometernya agar air kotor langsung terbuang keluar, tidak masuk ke bak warga,” ujarnya.
Selain itu, Pemkot juga akan menerapkan metode washout dengan memotong ujung pipa.
“Di ujung pipa akan kita potong untuk pembuangan air atau washout. Jadi air kotor akan terbuang sendiri secara maksimal,” jelasnya.
Marnabas memaparkan rencana penanganan dalam tiga tahap. Dalam jangka pendek, PDAM diminta aktif mendatangi warga tanpa menunggu keluhan.
“Melakukan pembersihan berkala dan langsung mendatangi warga. Jangan tunggu warga. Buka meternya, buang air kotornya sampai bersih,” tegasnya.
Untuk jangka menengah, Pemkot berencana mengganti pipa tua secara bertahap. Saat ini, panjang pipa mencapai sekitar 30 kilometer dengan usia rata-rata 30 tahun.
“Rencananya, setiap tahun kita akan ganti secara bertahap, misalnya lima kilometer per tahun. Jadi dalam enam tahun bisa selesai semua,” ujarnya.
Sementara untuk jangka panjang, Pemkot akan membangun IPA baru di kawasan atas Loa Kulu guna mengatasi persoalan air baku dan mengantisipasi musim kemarau panjang.
“Sekalipun pipa diganti, kalau air bakunya tetap sama, maka 30 tahun lagi akan mengendap lagi. Solusinya, kita akan membangun IPA baru di atas Loa Kulu,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembangunan tersebut juga untuk mencegah intrusi air laut agar operasional tetap berjalan optimal.
Dalam kesempatan itu, Marnabas menyampaikan tiga pesan utama Wali Kota yang menjadi komitmen pemerintah daerah.
“Pertama, tahun 2029 seluruh masyarakat harus sudah terlayani air bersih. Kedua, kualitas air harus terus ditingkatkan. Ketiga, ketersediaan air 24 jam harus dijaga,” ungkapnya.
Ia menegaskan, persoalan air bersih tidak cukup hanya dibahas, tetapi harus diikuti dengan tindakan nyata.
“Intinya, jangan hanya bicara soal pipa tua, tapi harus ada tindakan nyata. Saya putuskan, potong pipa di ujung untuk washout, buka meteran warga saat pembersihan, dan jadwalkan setiap minggunya agar pelayanan maksimal,” pungkas Marnabas.
