Samarinda, Infosatu.co – Ada orang yang setiap pagi minum kopi sebelum mulai bekerja. Ada yang selalu menyisihkan uang setelah menerima gaji. Ada pula yang terbiasa berjalan kaki pada sore hari, serta masih banyak lagi yang masih bisa dilakukan.
Semua kegiatan itu terlihat layaknya aktivitas biasa. Namun dalam kegiatan yang berulang, kita seringkali mulai dihadapkan dengan sebutan seperti rutinitas, kebiasaan atau konsisten.
Tiga istilah tersebut sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari. Padahal, jika dilihat dari cara kebiasaan terbentuk, ketiganya memiliki peran yang berbeda.
Gagasan ini menjadi salah satu bagian penting dalam buku Atomic Habits karya James Clear. Ia tidak hanya membahas bagaimana seseorang membangun kebiasaan baru, tetapi juga bagaimana perubahan kecil dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Clear mendefinisikan kebiasaan sebagai keputusan kecil dan tindakan yang dilakukan setiap hari. Menurutnya, apa yang berulang kali dilakukan seseorang pada akhirnya ikut membentuk dirinya.
Lalu, di mana letak perbedaannya?
Kebiasaan bukan sekadar kegiatan yang diulang
Kebiasaan sering dipahami sesederhana melakukan sesuatu berulang kali.
Padahal, ada proses yang terjadi di baliknya.
Ketika seseorang melakukan tindakan yang sama dalam situasi tertentu secara berulang, tindakan itu perlahan membutuhkan lebih sedikit pertimbangan. Misalnya, seseorang yang terbiasa langsung menyikat gigi setelah bangun tidur tidak perlu lagi membuat keputusan khusus setiap pagi untuk melakukannya.
Berbeda dengan orang yang baru ingin memulai kebiasaan tersebut. Ia masih harus mengingat, menentukan waktu, bahkan terkadang meyakinkan dirinya sendiri untuk melakukannya.
Dalam kerangka Atomic Habits, kondisi seperti ini penting karena tujuan akhirnya bukan sekadar melakukan satu tindakan sekali atau dua kali. Yang dibangun adalah pola perilaku.
Clear menyebut kebiasaan sebagai “small decisions” dan tindakan yang dilakukan setiap hari. Karena dilakukan berulang, tindakan tersebut kemudian menjadi bagian dari pola kehidupan seseorang.
Rutinitas lebih dulu dirancang
Rutinitas sedikit berbeda.
Rutinitas biasanya merupakan rangkaian kegiatan yang sengaja disusun. Seseorang bisa membuat rutinitas pagi, rutinitas sebelum tidur, atau rutinitas ketika mulai bekerja.
Contohnya, seseorang menetapkan rutinitas setelah bangun tidur: merapikan tempat tidur, minum air putih, mandi, sarapan, lalu berangkat kerja.
Ia sudah mengetahui apa yang harus dilakukan dan kapan melakukannya.
Namun, belum tentu semua kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan.
Seseorang bisa memiliki jadwal olahraga tiga kali seminggu, tetapi tetap harus bernegosiasi dengan dirinya sendiri setiap kali waktu olahraga tiba. Ia mempunyai rutinitas, tetapi proses pembentukan kebiasaannya masih berlangsung.
Di titik ini, rutinitas lebih tepat dipahami sebagai pola yang dirancang, sedangkan kebiasaan adalah perilaku yang semakin melekat karena pengulangan.
Keduanya bisa bertemu. Rutinitas yang dilakukan terus-menerus dapat membantu sebuah perilaku berkembang menjadi kebiasaan.
Lalu, apa peran konsistensi?
Konsistensi bukan bentuk kegiatan tertentu.
Konsistensi adalah kemampuan untuk tetap menjalankan sesuatu dari waktu ke waktu.
Seseorang yang berolahraga setiap Senin, Rabu, dan Jumat sedang menjalankan rutinitas. Jika ia mampu mempertahankannya selama berbulan-bulan, di situlah konsistensi terlihat.
Karena itu, konsistensi lebih berhubungan dengan keberlanjutan.
Hal tersebut sejalan dengan pendekatan James Clear yang menekankan pentingnya memulai dari ukuran kecil dan memilih kecepatan yang dapat dipertahankan. Dalam panduannya tentang pembentukan kebiasaan, Clear menekankan bahwa seseorang perlu memulai dari kebiasaan yang sangat kecil dan menjaga ritmenya agar dapat terus dilakukan.
Dengan kata lain, seseorang tidak harus melakukan perubahan besar setiap hari.
Yang lebih penting adalah memiliki tindakan yang cukup realistis untuk dilakukan kembali besok.
Mengapa Atomic Habits banyak berbicara soal hal kecil?
Di sinilah konsep Atomic Habits menjadi menarik.
Clear menggunakan gagasan bahwa perubahan kecil dapat terakumulasi. Ia mengibaratkan kebiasaan seperti bunga majemuk dalam pengembangan diri, yakni dampaknya mungkin tidak terasa besar dalam satu hari, tetapi dapat menjadi signifikan ketika berlangsung dalam waktu yang panjang.
Dalam salah satu penjelasannya, Clear menulis bahwa pilihan yang hanya satu persen lebih baik atau lebih buruk mungkin tampak tidak berarti pada saat itu, tetapi jika terus terakumulasi sepanjang hidup, pilihan-pilihan kecil tersebut dapat menghasilkan perbedaan besar.
Contohnya bisa ditemukan dalam banyak hal.
Orang yang ingin membaca lebih banyak tidak harus langsung menargetkan satu buku setiap minggu. Ia bisa mulai dengan beberapa halaman.
Orang yang ingin berolahraga tidak harus langsung berlatih satu jam setiap hari. Ia bisa memulai dengan durasi yang lebih mudah dilakukan.
Begitu juga dengan menabung. Menyisihkan uang dalam jumlah kecil mungkin tidak langsung mengubah kondisi keuangan seseorang. Tetapi tindakan yang dilakukan berulang memiliki efek yang berbeda dibandingkan hanya menabung ketika sedang memiliki uang lebih.
Di sinilah konsistensi menjadi penting.
Apakah konsisten berarti tidak boleh gagal?
Tidak juga.
Ini bagian yang sering disalahpahami ketika berbicara tentang kebiasaan.
Konsisten bukan berarti seseorang harus berhasil setiap hari tanpa satu pun kesalahan.
Ada hari ketika olahraga terlewat. Ada malam ketika seseorang memilih tidak membaca. Ada pula waktu ketika rencana yang sudah dibuat berantakan karena pekerjaan atau keadaan lain.
Satu kali berhenti tidak otomatis membuat sebuah kebiasaan hilang.
Yang menjadi persoalan adalah ketika berhenti tersebut berubah menjadi pola baru.
Karena itu, dalam konsep yang ditawarkan Clear, kemampuan untuk kembali ke kebiasaan juga menjadi bagian penting. Dalam buku Atomic Habits bahkan memasukkan pembahasan kemampuan untuk “get back on track when you get off course” sebagai salah satu hal yang diajarkan buku tersebut.
Artinya, seseorang tidak perlu menunggu hari Senin, awal bulan, atau tahun baru untuk memulai kembali.
Kebiasaan, rutinitas dan konsistensi akhirnya saling bertemu
Kalau disederhanakan, ketiganya bisa dibedakan seperti ini.
Rutinitas menjawab pertanyaan, apa yang akan saya lakukan dan kapan saya melakukannya?
Konsistensi menjawab, apakah saya terus melakukannya dari waktu ke waktu?
Sementara kebiasaan menjawab, apakah tindakan tersebut sudah menjadi bagian dari pola perilaku saya?
Ketiganya bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Rutinitas dapat memberikan struktur. Konsistensi menjaga agar struktur tersebut tidak berhenti setelah beberapa hari. Pengulangan kemudian dapat membuat perilaku menjadi semakin otomatis dan akhirnya menjadi kebiasaan.
Itulah sebabnya Atomic Habits tidak semata-mata berbicara tentang kemauan keras.
Clear justru mendorong pembaca untuk memikirkan sistem yang membuat perilaku lebih mudah dilakukan. Dalam kerangka empat hukum perubahan perilaku yang ia gunakan, kebiasaan baik dibuat terlihat, menarik, mudah, dan memuaskan.
Jadi, jika seseorang ingin membangun kebiasaan baru, pertanyaannya bukan hanya, “Seberapa kuat saya bisa memaksa diri?”
Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “Bagaimana saya membuat tindakan ini cukup mudah untuk dilakukan lagi?”
Sebab, perubahan perilaku jarang ditentukan oleh satu keputusan besar.
Lebih sering, ia terbentuk dari keputusan-keputusan kecil yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Benang merahnya, rutinitas adalah pola yang kita susun, konsistensi adalah kemampuan untuk mempertahankannya, sedangkan kebiasaan adalah perilaku yang terbentuk setelah cukup sering dilakukan.
Ketiganya mungkin terlihat sama dari luar. Namun, proses di baliknya berbeda.
