Kota Pasuruan, infosatu.co – Momentum Hari Kartini dimanfaatkan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Pasuruan, Jawa Timur (Jatim) memperkuat komitmen terhadap perlindungan perempuan dan inklusivitas di lingkungan kerja.
Melalui kegiatan Penguatan SDM Kelompok Kerja (Pokja) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang digelar secara daring, Rabu (22 April 2026), Bawaslu menghadirkan sosok inspiratif Fifi Ekawati Rohmah sebagai narasumber utama.
Mengusung tema “Literasi Media dan Perlindungan Perempuan: Semangat Kartini di Era Disrupsi”, kegiatan ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan langkah konkret membangun kesadaran kolektif akan pentingnya ruang kerja yang aman, setara, dan berintegritas.
Sebagai Ketua Yayasan Pesantren Srikandi Jombang, Fifi Ekawati Rohmah tampil membawa perspektif tajam berbasis pengalaman panjangnya dalam advokasi dan pemberdayaan perempuan.
Lebih dari satu dekade ia berkecimpung di akar rumput, menjadikannya figur yang kredibel dalam mengurai persoalan kekerasan seksual sekaligus menawarkan solusi aplikatif.
Di hadapan jajaran Bawaslu Kota Pasuruan, Fifi menekankan pentingnya literasi media sebagai benteng awal perlindungan perempuan di tengah derasnya arus informasi digital.
“Perempuan hari ini tidak hanya berhadapan dengan kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan berbasis digital. Literasi menjadi kunci agar tidak menjadi korban sekaligus mampu melawan narasi yang merugikan,” ungkapnya, Rabu 22 April 2026.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Kota Pasuruan, Vita Suci Rahayu, menegaskan bahwa pembentukan Pokja PPKS harus melampaui sekadar formalitas administratif.
“Target kita bukan hanya SK, tetapi aksi nyata. Bawaslu harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi semua, tanpa diskriminasi,” tegas Vita.
Ia juga menyoroti pentingnya budaya organisasi yang inklusif, sejalan dengan kebijakan terbaru dari Bawaslu RI yang mendorong pengarusutamaan gender serta aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Kehadiran Fifi Ekawati Rohmah dinilai menjadi energi baru dalam memperkuat kapasitas internal Bawaslu, terutama menjelang tahapan krusial Pilkada.
Dengan jumlah pengawas ad hoc yang besar hingga tingkat TPS, kesiapan SDM dalam memahami dan menangani isu kekerasan seksual menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Sinergi antara lembaga negara dan elemen masyarakat sipil seperti yang ditunjukkan dalam forum ini menjadi bukti bahwa perlindungan perempuan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan gerakan bersama.
Di akhir kegiatan, Vita menegaskan bahwa hasil diskusi harus bertransformasi menjadi aksi nyata di lapangan.
“Ini bukan hanya wacana. Ini adalah komitmen. Kita ingin Bawaslu tidak hanya kuat dalam pengawasan, tetapi juga menjadi teladan dalam menjunjung nilai kesetaraan dan kemanusiaan,” pungkasnya.
Dengan kehadiran tokoh inspiratif seperti Fifi Ekawati Rohmah, Bawaslu Kota Pasuruan optimistis mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, profesional, dan berintegritas, sekaligus mengukuhkan diri sebagai pelopor pengarusutamaan gender di daerah.
