infosatu.co
KESEHATAN

Edukasi Kesehatan Reproduksi Sejak Remaja Jadi Fondasi Tekan Kematian Ibu di Kaltim

Teks: Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin. (Emmi/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Upaya menurunkan angka kematian ibu di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya dilakukan melalui penguatan layanan kesehatan saat kehamilan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim menilai edukasi kesehatan reproduksi sejak usia remaja menjadi fondasi penting untuk mencegah kehamilan berisiko dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu di masa depan.

Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi pembangunan kesehatan berbasis siklus hidup. Menurutnya, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi perlu diberikan sejak dini agar masyarakat memiliki kesiapan sebelum memasuki usia pernikahan dan kehamilan.

“Upaya menekan angka kematian ibu tidak bisa hanya dilakukan ketika seseorang sudah hamil. Edukasi sejak remaja menjadi bagian penting agar calon ibu memahami kesehatan reproduksi, gizi, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum dan selama kehamilan,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut dijalankan melalui sinergi bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program yang dikembangkan mencakup edukasi kesehatan reproduksi, penguatan layanan keluarga berencana, hingga pemenuhan gizi bagi ibu hamil melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dinkes Kaltim menilai peningkatan literasi kesehatan reproduksi akan membantu masyarakat mengenali faktor risiko kehamilan lebih awal. Dengan demikian, berbagai potensi komplikasi dapat dicegah melalui pemeriksaan rutin dan pendampingan tenaga kesehatan.

Selain edukasi, pemerintah daerah juga terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak melalui optimalisasi deteksi dini kehamilan berisiko, peningkatan pendampingan bagi ibu hamil, serta penguatan sistem rujukan antar-fasilitas kesehatan di seluruh kabupaten dan kota.

Data Dinkes Kaltim menunjukkan, selama Januari hingga Juni 2026 tercatat 32 kasus kematian ibu berdasarkan alamat domisili.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan pengetahuan masyarakat hingga penguatan pelayanan kesehatan.

“Kami optimistis kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat mempercepat penurunan angka kematian ibu di Kaltim,” tuturnya.

Menurutnya, investasi melalui pendidikan kesehatan reproduksi akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas kesehatan ibu dan generasi mendatang.

Related posts

Dinkes Kaltim Usulkan Anggaran Rp2,38 Triliun untuk 2027, Mayoritas Dialokasikan ke BLUD

Rizki

Deteksi Terlambat Penyebab Utama Kematian HIV di Samarinda

Emmy Haryanti

Penanganan Stunting di Samarinda Diminta Tetap Jadi Prioritas Meski Anggaran Diefisiensi

Rizki