infosatu.co
KESEHATAN

Dinkes Kaltim Prediksi Kasus DBD Meningkat pada Desember-Januari

Teks: Ilustrasi nyamuk Demam Berdarah Dengue. (Ist)

Samarinda, Infosatu.co – Peningkatan curah hujan pada akhir tahun berpotensi memicu lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kalimantan Timur (Kaltim). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim memperkirakan peningkatan penularan terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

Prediksi tersebut mengacu pada pola kasus dalam lima tahun terakhir. Puncak penularan DBD biasanya terjadi sekitar satu hingga satu setengah bulan setelah musim hujan mulai berlangsung secara masif.

Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah perlu mengantisipasi kondisi tersebut sejak dini, terutama jika curah hujan meningkat pada November hingga Desember.

“Jika musim hujan mulai masif pada November hingga Desember, maka satu hingga satu setengah bulan berikutnya, yaitu sekitar Desember dan Januari, kita harus siap siaga menghadapi potensi puncak kasus,” kata Ishak, Jumat, 30 Oktober 2026.

Kewaspadaan juga diperlukan karena angka kematian akibat DBD atau Case Fatality Rate (CFR) di Kaltim masih mendekati satu persen. Artinya, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tersebut masih berisiko menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik.

Menurut Ishak, upaya pengendalian tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus mulai meningkat. Pencegahan harus berjalan sejak sekarang, mulai dari lingkungan rumah tangga hingga tingkat kabupaten dan kota.

Salah satu langkah yang didorong adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak. Dinkes Kaltim juga meminta gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (Jumantik) kembali diperkuat untuk memastikan tidak ada tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti di lingkungan permukiman.

Selain melibatkan masyarakat, pemerintah kabupaten dan kota diminta memetakan wilayah yang memiliki risiko penularan tinggi. Pemetaan menggunakan Geographic Information System (GIS) dapat membantu mengidentifikasi daerah rawan hingga titik konsentrasi kasus atau hotspot.

Data surveilans dan kajian entomologi juga perlu dimanfaatkan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih intensif. Dengan begitu, upaya pencegahan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

Ishak turut menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang mempertimbangkan perubahan cuaca. Prakiraan BMKG dapat digunakan sebagai salah satu dasar bagi pemerintah daerah untuk mempersiapkan langkah pengendalian sebelum kasus meningkat.

“Perlunya sistem peringatan dini yang mempertimbangkan faktor cuaca. Informasi prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dapat menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi peningkatan penularan,” jelasnya.

Kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan juga perlu diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya pasien. Edukasi mengenai gejala DBD dan pentingnya pemeriksaan sejak dini menjadi bagian dari upaya mencegah keterlambatan penanganan.

Dinkes Kaltim meminta pemerintah kabupaten dan kota, fasilitas kesehatan, serta masyarakat tidak menunggu lonjakan kasus untuk mulai melakukan pencegahan.

“Pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk, dan pengawasan kasus perlu berjalan beriringan menjelang periode yang diprediksi menjadi puncak penularan,” tutup Ishak.

Related posts

Cacingan Bisa Ganggu Nutrisi dan Tumbuh Kembang Anak, Dinkes Kaltim Tekankan 3 Kebiasaan

Rizki

Tak Hanya ISPA, Dinkes Kaltim Ingatkan Ancaman Diare dan DBD di Musim Kemarau

Rizki

Dinkes Kaltim Salurkan 253.048 Dosis Vaksin Imunisasi hingga Oktober 2026

Rizki