infosatu.co
KESEHATAN

Cacingan Bisa Ganggu Nutrisi dan Tumbuh Kembang Anak, Dinkes Kaltim Tekankan 3 Kebiasaan

Teks: Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Andi Muhammad Ishak. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Cacingan pada anak tidak hanya berkaitan dengan masalah kebersihan, tetapi juga dapat mengganggu penyerapan nutrisi hingga berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim), terutama pada anak usia sekolah dan balita.

Infeksi cacing yang terjadi pada anak dapat membuat nutrisi yang seharusnya digunakan untuk menunjang pertumbuhan tidak terserap secara optimal.

Dalam kondisi tertentu, cacingan juga dapat meningkatkan risiko anemia, berkontribusi terhadap risiko stunting, hingga memengaruhi kemampuan anak mengikuti proses pembelajaran.

Karena itu, pencegahan cacingan perlu dilakukan sejak dini. Upayanya tidak hanya melalui pemberian obat cacing, tetapi juga dengan membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat serta menjaga lingkungan tempat anak beraktivitas.

Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan perhatian terhadap cacingan perlu diberikan terutama kepada anak usia sekolah, meski pencegahan tetap harus dilakukan pada anak secara umum.

“Fokus kita terutama pada anak sekolah, meskipun pencegahan juga perlu dilakukan pada anak secara umum. Jika masih banyak anak yang mengalami cacingan, potensi terjadinya anemia akan semakin besar,” kata Ishak, Jumat, 23 Oktober 2026.

Menurutnya, cacingan juga berkaitan dengan upaya menjaga tumbuh kembang anak. Gangguan penyerapan nutrisi dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pencegahan stunting.

“Kondisi ini juga dapat berkontribusi terhadap risiko stunting dan memengaruhi prestasi belajar anak,” lanjutnya.

Selain kondisi kesehatan anak, Dinkes Kaltim menyoroti kebersihan lingkungan sebagai bagian penting dalam pencegahan cacingan.

Kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat dapat meningkatkan risiko penularan.

Andi Ishak mengatakan indikator cacingan perlu menjadi perhatian bersama untuk mendorong perubahan perilaku sekaligus memperbaiki kondisi lingkungan.

“Jika indikator cacingan masih tinggi, hal itu perlu menjadi perhatian kita bersama, terutama terkait kebersihan lingkungan dan perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” jelasnya.

Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang diterapkan anak setiap hari. Salah satunya mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan dan setelah melakukan aktivitas yang membuat tangan kotor.

Kebiasaan kedua adalah menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Orang tua perlu memastikan kebersihan tubuh anak, sementara lingkungan rumah dan sekolah juga harus dijaga agar tetap bersih dan memiliki fasilitas sanitasi yang memadai.

Kebiasaan ketiga adalah menggunakan alas kaki ketika beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko kontak langsung dengan tanah yang dapat menjadi media penularan beberapa jenis cacing.

Selain ketiga kebiasaan tersebut, pemberian obat cacing juga menjadi bagian dari upaya pencegahan yang perlu diperkuat.

Edukasi kepada anak dan keluarga dibutuhkan agar pengobatan diikuti dengan perubahan perilaku sehingga risiko terjadinya infeksi kembali dapat ditekan.

Pencegahan cacingan juga membutuhkan keterlibatan sekolah dan keluarga. Sekolah dapat memperkuat edukasi kesehatan sekaligus menjaga kebersihan lingkungan belajar, sedangkan orang tua berperan membangun kebiasaan hidup bersih anak sejak dari rumah.

Puskesmas dan instansi yang berkaitan dengan sanitasi serta lingkungan juga diperlukan untuk memperkuat upaya pencegahan secara berkelanjutan.

“Kita ingin pencegahan ini dilakukan bersama-sama, mulai dari keluarga, sekolah, puskesmas sampai sektor terkait. Kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih harus menjadi kebiasaan agar risiko cacingan pada anak dapat ditekan,” pungkas Ishak.

Related posts

Tak Hanya ISPA, Dinkes Kaltim Ingatkan Ancaman Diare dan DBD di Musim Kemarau

Rizki

Dinkes Kaltim Salurkan 253.048 Dosis Vaksin Imunisasi hingga Oktober 2026

Rizki

Dinkes Kaltim Usulkan Mediasi untuk Selesaikan Pengaduan Keluarga Pasien Cath Lab RSUD AWS

Rizki