Samarinda, Infosatu.co – Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Andi Eviana menyebut Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi provinsi ke-14 di Indonesia yang membentuk Klaster Logistik Penanggulangan Bencana.
Pembentukan ini dinilai penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak bencana dapat dipenuhi dan didistribusikan secara cepat serta terkoordinasi.
“Kita tidak berharap ada bencana, tetapi kita juga tidak bisa menghindari yang namanya bencana,” ujarnya secara daring dalam kegiatan Pembentukan Klaster Logistik Penanggulangan Bencana di Provinsi Kaltim yang digelar di Hotel Bumi Senyiur Samarinda, Jalan Pangeran Diponegoro, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menuturkan, kejadian bencana yang semakin beragam membuat kesiapan logistik tidak bisa hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Di Kaltim, tercatat 96 kejadian bencana sepanjang 2023, sedangkan pada 2024 hingga 28 Oktober tercatat 67 kejadian.
“Ini sangat menentukan bagaimana penanganan darurat bencana ke depan pada saat terjadi bencana di Kalimantan Timur,” tegasnya.
Melalui klaster tersebut, pemerintah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan, TNI/Polri, BUMN, akademisi, NGO, hingga masyarakat akan bekerja dalam satu wadah untuk memperkuat pengelolaan logistik dan peralatan.
Andi menjelaskan, klaster akan bekerja sejak fase prabencana dengan membangun mekanisme koordinasi, melakukan pertemuan rutin, peningkatan kapasitas, serta pemetaan sumber daya. Pemetaan mencakup sumber daya manusia, logistik, peralatan, sarana prasarana hingga gudang yang dimiliki para anggota klaster.
“Ketika terjadi bencana, kita sudah bisa langsung mendistribusikan secara baik dan benar, kemudian kebutuhan-kebutuhan masyarakat pun sudah bisa terpenuhi, khususnya yang terdampak di lokasi bencana,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya ketersediaan gudang representatif. Menurutnya, gudang menjadi bagian penting dalam memastikan logistik dan peralatan dapat disimpan, dikelola, serta segera didistribusikan saat dibutuhkan.
“Semua pemangku kepentingan yang memiliki gudang ini bisa dimanfaatkan pada saat darurat bencana,” ucapnya.
Sementara pada fase pascabencana, klaster akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk melihat penanganan yang telah dilakukan sekaligus menentukan kebutuhan tindak lanjut.
Dalam struktur klaster, terdapat koordinator, wakil koordinator, sekretariat, serta tiga bidang utama, yakni Bidang Perencanaan dan Pemenuhan Kebutuhan, Bidang Penyimpanan, dan Bidang Distribusi.
Ia menambahkan, pembentukan klaster di Kaltim nantinya perlu diteruskan hingga kabupaten/kota. Sebab, penanganan di tingkat daerah menjadi penting agar distribusi logistik dapat langsung menjangkau masyarakat yang terdampak.
“BNPB siap melakukan pendampingan,” pungkasnya.
