Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) mengingatkan masyarakat untuk memastikan keamanan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama air yang dikonsumsi.
Pengelolaan air yang tepat menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan seperti diare hingga tifoid atau tifus.
Dinkes Kaltim membagikan enam langkah yang perlu diperhatikan masyarakat, mulai dari memastikan sumber air hingga cara penyimpanan dan pengambilannya.
Pertama, gunakan sumber air yang aman, terlindungi, serta berada jauh dari tempat pembuangan sampah, limbah, maupun septic tank. Kondisi sumber air menjadi faktor awal yang menentukan kualitas air sebelum digunakan.
Kedua, air perlu diolah terlebih dahulu sebelum diminum. Cara paling sederhana yakni merebus air hingga mendidih. Jika diperlukan, masyarakat juga dapat menggunakan penyaringan atau disinfeksi sesuai petunjuk penggunaannya.
Ketiga, air yang telah diolah harus disimpan dengan benar. Gunakan wadah yang bersih, aman untuk makanan, memiliki penutup rapat, serta dibersihkan secara rutin agar tidak menjadi sumber pencemaran baru.
Keempat, pengambilan air juga harus dilakukan secara higienis. Masyarakat dianjurkan mencuci tangan menggunakan sabun sebelum mengambil air, serta menggunakan keran, gayung, atau sendok yang bersih. Hindari memasukkan tangan secara langsung ke dalam wadah penyimpanan.
Kelima, perhatikan perubahan pada air. Air yang berubah warna, memiliki bau atau rasa yang tidak biasa sebaiknya tidak langsung dikonsumsi. Jika ragu terhadap keamanannya, air perlu diolah kembali sebelum digunakan.
Keenam, perlindungan terhadap keluarga dan lingkungan juga perlu menjadi perhatian. Kelompok rentan seperti balita, lanjut usia, dan ibu hamil harus mendapat perhatian lebih. Di sisi lain, kebersihan lingkungan perlu dijaga agar sumber air tetap terlindungi dari pencemaran.
Imbauan tersebut menjadi relevan di tengah kondisi kemarau panjang di Kaltim dan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Turunnya hujan setelah periode kering membuat sebagian masyarakat berpotensi memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga.
Namun, air hujan yang turun pada awalnya tidak disarankan langsung ditampung, terutama setelah atap dan talang rumah lama terpapar debu, abu, serta kotoran selama musim kemarau.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sekaligus Plt. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda Suwarso mengingatkan masyarakat untuk membiarkan aliran awal hujan terbuang terlebih dahulu.
Langkah itu dilakukan agar material yang menumpuk di atap dan talang tidak ikut masuk ke tempat penampungan.
“Air hujan pertama sebaiknya jangan langsung ditampung. Biarkan mengalir terlebih dahulu agar debu, abu, dan kotoran yang menempel di atap serta talang ikut terbuang,” ujar Suwarso saat dikonfirmasi belum lama ini.
Ia mengingatkan kualitas air perlu menjadi perhatian lebih jika air hujan yang ditampung digunakan untuk memasak, mencuci bahan makanan, maupun kebutuhan minum.
Ia mengingatkan bahwa kondisi air yang terlihat jernih belum menjadi jaminan bahwa air tersebut aman untuk dikonsumsi. Partikel debu dan material lain yang mengendap selama kemarau, termasuk yang berasal dari paparan asap karhutla, dapat terbawa bersama air hujan.
“Kalau memang ingin dimanfaatkan, pastikan wadah penampungan bersih dan airnya diolah terlebih dahulu. Jangan hanya melihat dari warna atau kejernihannya saja,” tutupnya.
