Samarinda, infosatu.co – Keberadaan amparan tatak kuliner tradisional khas Kota Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim) kian berkurang dari waktu ke waktu.
Sebagai upaya pelestarian, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan amparan tatak sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) pada 10 Oktober 2025.
Untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kuliner ini, SUMBU TENGAH berkolaborasi dengan Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menggelar diskusi interaktif dan sesi makan bersama (mukbang) amparan tatak di Hotel Mesra Samarinda, Selasa, 18 November 2025.
Acara dipandu Founder SUMBU TENGAH, Rusdianto, dan menghadirkan sembilan pembicara lintas generasi, mulai dari Gen X hingga Z. Mereka adalah Ketua Forum CSR Kaltim Yusan Triananda, Ketua PPJI Kaltim Fitriyana Zoelkifli, food vlogger Rifky Al Faris, food vlogger Alya Ramadhani, food vlogger Dyaz Shinta Emelia, content creator Intan Nabila, sejarawan publik Muhammad Sarip, serta maestro amparan tatak, Khairunnisa atau Icha dari Maskota.
Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri membuka acara dengan mengenang pengalaman kuliner tradisional di Samarinda.
Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas produksi amparan tatak.
“Saya mengimbau agar amparan tatak terus diproduksi tanpa bahan kimia berbahaya. Kesehatan warga harus terjaga, dan perlu ada varian kreatif agar lebih diminati. Ini bisa memperkuat posisinya sebagai identitas kuliner Samarinda,” katanya.
CEO Hotel Mesra Yusan Triananda menilai amparan tatak berpotensi disajikan di hotel melalui skema kerja sama dengan UMKM pembuat kue tersebut mengingat sifatnya yang harus selalu segar.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Kalimantan Timur (Kaltim) Fitriyana Zoelkifli mengusulkan, agar amparan tatak tampil sebagai salah satu menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah setiap akhir pekan.
“Dengan syarat proses produksi mengikuti standar higienis,” ucapnya.
Para Food vlogger Rifky Al Faris berbagi pengalaman unik. Meski awalnya tidak menyukai makanan bertekstur lembek, ia justru terkesan setelah mencicipinya.
“Aku pikir teksturnya bakalan benyek. Tapi ternyata santannya gurih, manisnya pas, dan pisangnya pakai pisang talas. Lumer banget. Menurutku cocok masuk restoran atau coffee shop,” katanya.
Alya Ramadhani, pengelola akun @acilsmr, menyampaikan bahwa amparan tatak menjadi hidangan wajib di keluarganya saat selamatan. Ia juga mengenal Maskota sebagai pembuat kuliner tradisional yang terkenal.
Dyaz Shinta Emelia dari @mainmakan.id mengaku takjub pada kesan pertama.
“Teksturnya lembut, rasanya gurih, dan pisangnya nggak lepas dari adonan,” ujarnya.
Berbeda dengan Intan Nabila yang pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan saat pertama kali mencoba amparan tatak.
“Waktu itu pisangnya terpisah dan warnanya kebiruan. Setelah dijelaskan Bang Sarip, itu bukan standar amparan tatak. Hari ini setelah coba buatan maestro, rasanya enak dan legit,” ungkap mahasiswa FIB Unmul tersebut.
Pada sesi sejarah, Muhammad Sarip menjelaskan mengapa amparan tatak ditetapkan sebagai warisan budaya dari Kaltim.
“Kalimantan Selatan (Kalsel) juga mengusulkan amparan tata tapi berkas dari Kaltim lebih lengkap sehingga lolos verifikasi. Kalsel akhirnya mendukung pengusulan dari Kaltim,” jelasnya.
Selain diskusi dan mukbang, acara juga menampilkan workshop singkat pembuatan amparan tatak oleh Icha.
Kue talam itu disajikan kepada peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa Polnes, siswa SMA Bunga Bangsa, TWAP Samarinda, Disdikbud, TACB Samarinda, komunitas literasi, petani pisang, hingga ormas Laung Kuning Banjar.
Founder SUMBU TENGAH, Rusdianto, menyebut gagasan forum ini lahir dari percakapan bebas di ruang-ruang kecil seperti chat, warung kopi, hingga perpustakaan, kemudian dikembangkan menjadi dialog publik yang lebih bermakna.
