infosatu.co
Artikel

Skeptis: Sifat Kritis atau Justru Sulit Percaya Orang?

Teks: ilustrasi kedua wanita yang sedang melakukan percakapan. (Ist)

Samarinda, Infosatu.co – Pernah bertemu orang yang tidak mudah percaya begitu saja pada sebuah cerita? Ketika orang lain langsung menerima informasi, dia justru bertanya, “Sumbernya dari mana?” atau “Memangnya ada buktinya?”

Orang seperti ini kadang dianggap terlalu curiga, sulit percaya, bahkan suka membantah. Padahal, belum tentu demikian. Bisa jadi ia memang memiliki kecenderungan berpikir skeptis.

Dalam The Demon-Haunted World: Sains Penerang Kegelapan, Carl Sagan membahas pentingnya sikap skeptis dalam menghadapi berbagai klaim dan informasi. Menurut gagasan yang dibangun Sagan, menerima sesuatu begitu saja bisa membuat seseorang mudah terseret oleh informasi yang belum tentu benar. Sebaliknya, sikap skeptis mendorong seseorang untuk memeriksa bukti sebelum mengambil kesimpulan.

Skeptis, dalam pengertian ini, bukan berarti menolak semua hal.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menerima informasi dari banyak arah. Ada cerita dari teman, unggahan media sosial, video yang beredar di grup percakapan, sampai pernyataan seseorang yang dianggap ahli.

Masalahnya, informasi yang terdengar meyakinkan belum tentu benar.

Seseorang bisa berbicara dengan percaya diri, menggunakan istilah yang terdengar ilmiah, atau membawa nama tokoh tertentu. Hal-hal seperti itu bisa membuat sebuah klaim tampak lebih dapat dipercaya.

Orang yang berpikir skeptis cenderung berhenti sejenak sebelum menerimanya.

Bukan berarti ia langsung mengatakan informasi tersebut salah. Ia mungkin hanya ingin mengetahui sumbernya, melihat bukti yang tersedia, atau mencari informasi pembanding.

Sederhananya, sikapnya bukan “Saya tidak percaya”, tetapi “Saya belum yakin.”

Perbedaan itu penting. Skeptis Bukan Sinis

Sikap skeptis juga berbeda dengan sinisme.

Orang skeptis masih membuka kemungkinan bahwa sebuah informasi benar. Karena itu, ia mencari bukti untuk memastikan.

Sebaliknya, orang yang sinis cenderung sudah memiliki prasangka sejak awal. Ketika mendengar sebuah klaim, ia bisa langsung menganggapnya sebagai kebohongan atau memiliki maksud tertentu.

Misalnya, seseorang mengatakan menemukan metode tertentu yang bisa membuat seseorang lebih sehat.

Orang skeptis mungkin bertanya, “Apa penelitiannya?” atau “Apakah ada bukti yang mendukung?”

Sementara orang sinis bisa langsung menjawab, “Pasti cuma jualan.”

Keduanya sama-sama tidak langsung percaya, tetapi cara berpikirnya berbeda.

Ada bagian yang tidak kalah penting dari sikap skeptis, yaitu mempertanyakan keyakinan sendiri.

Manusia cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan apa yang sudah dipercayainya. Sebaliknya, informasi yang bertentangan sering kali diperiksa lebih keras.

Karena itu, seseorang bisa merasa dirinya sangat kritis terhadap pendapat orang lain, tetapi sebenarnya tidak kritis terhadap pendapatnya sendiri.

Bagian inilah yang membuat skeptisisme menjadi lebih sulit.

Mampu berkata “mungkin saya salah” membutuhkan sikap terbuka. Kita tidak hanya mencari kesalahan dalam pendapat orang lain, tetapi juga bersedia memeriksa alasan yang membuat kita mempercayai sesuatu.

Bagi Sagan, rasa ingin tahu dan skeptisisme bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kita tetap bisa merasa penasaran terhadap sesuatu tanpa buru-buru menganggapnya benar.

Skeptis juga bukan berarti harus mencurigai semua hal.

Jika seseorang menolak informasi apa pun tanpa mau melihat bukti, selalu menganggap orang lain berbohong, atau tetap mempertahankan pendapat meski bukti menunjukkan sebaliknya, sikap tersebut justru menjauh dari skeptisisme yang sehat.

Skeptisisme membutuhkan kesediaan untuk mengubah pendapat.

Jika bukti baru menunjukkan bahwa keyakinan kita keliru, maka pendapat tersebut seharusnya bisa diperbaiki.

Sebabnya, orang skeptis tidak harus selalu berkata “tidak”. Ia hanya tidak ingin mengatakan “ya” sebelum memiliki alasan yang cukup.

Di tengah banyaknya informasi yang kita terima setiap hari, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum percaya menjadi semakin penting.

Tidak semua informasi yang viral benar. Tidak semua orang yang berbicara dengan percaya diri memiliki bukti. Begitu pula informasi yang sesuai dengan keyakinan kita belum tentu otomatis benar.

Skeptis bukan berarti menjadi orang yang tidak percaya kepada siapa pun.

Sikap ini lebih sederhana. Mau bertanya, mau memeriksa, dan mau mengakui jika ternyata diri sendiri keliru.

Mungkin karena itu, pertanyaan sederhana seperti “Buktinya apa?” tidak selalu menunjukkan seseorang sedang meragukan orang lain.

Boleh jadi, ia sedang berusaha memastikan agar dirinya sendiri tidak mudah percaya.

Related posts

Makan di Nikahan Tanpa Diundang, Halal atau Haram? Ini Penjelasan Ulama

Rizki

Mengapa Kondisi Emosi Bisa Mengubah Cara Kita Melihat Masalah? Memahami ‘Peta Kesadaran’ David Hawkins

Rizki

Baju Sudah Dicuci tapi Masih Bau Apek, Ini Penyebabnya

R'sya Rahmadina