infosatu.co
KESEHATAN

Dinkes Samarinda Siapkan Dukungan Obat untuk Pasien Gagal Jantung di Puskesmas

Teks: Puskesmas Wonorejo yang berlokasi di Jalan Cendana, Teluk Lerong Ulu Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda. (Foto: Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Pasien gagal jantung membutuhkan penanganan yang tidak berhenti setelah keluar dari rumah sakit. Ketika kondisi sudah stabil, pasien tetap memerlukan obat dan pemantauan agar kondisi jantungnya tidak kembali memburuk hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Pola layanan tersebut kini mulai disiapkan melalui Klinik Gagal Jantung RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda. Pasien dengan kondisi yang membutuhkan penanganan rumah sakit akan mendapatkan pelayanan di klinik tersebut.

Setelah kondisinya stabil, pelayanan dapat dilanjutkan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih membeberkan puskesmas akan menjadi bagian dari kesinambungan layanan bagi pasien gagal jantung. Menurutnya, pasien yang sudah stabil tidak harus terus datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan.

“Kalau dia sudah stabil, cukup dilayani di puskesmas, ya cukup dilayani di fasilitas kesehatan primer,” ungkap Ismed saat ditemui di RSUD IA Moeis Samarinda, Sabtu, 19 September 2026.

Untuk mendukung alur tersebut, Dinkes Samarinda menyiapkan dukungan obat yang dibutuhkan pasien gagal jantung di puskesmas.

Ismed mengatakan kebutuhan obat akan disiapkan agar pasien yang sudah dapat ditangani di tingkat primer tidak kembali ke rumah sakit hanya karena persoalan ketersediaan obat.

“Paling tidak obat-obat yang harus diadakan di puskesmas itu kita sediakan,” ujarnya.

Skema tersebut menempatkan rumah sakit dan puskesmas pada fungsi yang berbeda. Pasien yang masih membutuhkan penanganan khusus tetap ditangani rumah sakit, sementara puskesmas menangani pasien yang kondisinya telah stabil sekaligus mengendalikan faktor risiko yang berkaitan dengan penyakit jantung.

Ismed menyebut hipertensi dan diabetes sebagai kondisi yang dapat ditangani di fasilitas kesehatan primer. Pengendalian kedua faktor tersebut menjadi bagian dari upaya mencegah kondisi pasien semakin berat.

“Kalau jantung itu pelayanan, kalau sudah masuk dalam kategori yang sakit jantung itu, kompetensinya ada di rumah sakit,” jelasnya.

Di tingkat puskesmas, dukungan deteksi awal juga telah tersedia. Ismed menyebut sejumlah fasilitas kesehatan primer memiliki peralatan elektrokardiografi (ECG) untuk membantu pemeriksaan kondisi jantung pasien.

Sementara ketika pasien masih dalam pemantauan Klinik Gagal Jantung RSUD IA Moeis, komunikasi dengan tenaga medis tidak berhenti saat pasien meninggalkan rumah sakit.

Ismed mengatakan terdapat grup WhatsApp yang melibatkan dokter jantung dan perawat untuk memantau pasien.

“Kita tahu di sana nanti ada grup WhatsApp, di mana grup WhatsApp itu ada dokter jantungnya, ada nursenya, jadi pasien-pasien jantung itu dalam satu grup, dan dia dilayani 24 jam,” kata Ismed.

Melalui pola tersebut, pasien gagal jantung yang telah stabil dapat berpindah dari layanan rumah sakit ke puskesmas tanpa memutus pemantauan. Rumah sakit tetap menangani ketika kondisi pasien membutuhkan kompetensi lebih lanjut, sementara puskesmas mengambil peran dalam pengobatan rutin dan pengendalian faktor risiko.

Related posts

RSUD IA Moeis Miliki Ekokardiografi Canggih untuk Klinik Gagal Jantung

Rizki

HIV Terdeteksi pada Siswa SD, SMP dan SMA di Kaltim, Masifkan Edukasi Pencegahan di Lingkungan Pendidikan

Rizki

Udara Sendawar Masuk Kategori Berbahaya, ISPU Tembus 363

R'sya Rahmadina