infosatu.co
KESEHATAN

HIV Terdeteksi pada Siswa SD, SMP dan SMA di Kaltim, Masifkan Edukasi Pencegahan di Lingkungan Pendidikan

Teks: Pencegahan HIV/AIDS melalui edukasi akan dimasifkan di lingkungan pendidikan merespons temuan kasus pada anak sekolah. (Istimewa)

Samarinda, Infosatu.co – Temuan kasus HIV pada anak usia sekolah di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan bahwa risiko penularan tidak hanya menjadi persoalan pada kelompok usia dewasa. Kasus tersebut ditemukan mulai dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Kondisi itu membuat upaya pencegahan di lingkungan pendidikan perlu diperkuat. Edukasi mengenai HIV/AIDS akan digencarkan dengan melibatkan sektor kesehatan dan pendidikan, terutama untuk membangun pemahaman sejak usia sekolah sekaligus mencegah stigma terhadap orang dengan HIV atau ODHIV.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim Muhammad Darlis Pattalongi mengungkap laporan mengenai anak usia sekolah yang terdeteksi HIV berasal dari rumah sakit rujukan di Kaltim.

Data rinci mengenai jumlah dan identitas pasien tidak disampaikan karena merupakan informasi yang dirahasiakan.

“Meskipun data pastinya dirahasiakan, laporan dari RSUD AWS dan Kanujoso mencatat ada anak-anak usia sekolah dasar hingga SMA yang terdeteksi HIV. Bahkan Plt Direktur RSUD AWS menyampaikan ada pasien hamil yang bayinya berpotensi besar terpapar virus tersebut,” ujar Darlis usai rapat di Gedung E Kantor DPRD Kaltim beberapa waktu lalu.

Darlis menilai temuan tersebut perlu diikuti penguatan kampanye pencegahan di sekolah. Menurutnya, penanggulangan HIV/AIDS tidak cukup hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi membutuhkan kerja lintas sektor.

Hal serupa disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Rahmat Ramadhan. Ia mengakui kasus HIV juga ditemukan di lingkungan pendidikan, termasuk pada anak jenjang SD dan SMP.

“Tidak dipungkiri memang HIV itu tidak mengenal tempat dan usia. Beberapa kasus juga ada terjadi di dunia pendidikan kita. Bahkan tadi yang dari SD, SMP pun ada juga kena,” kata Rahmat.

Rahmat mengatakan pencegahan dapat diperkuat melalui sosialisasi di lingkungan pendidikan. Disdikbud siap memfasilitasi apabila Dinas Kesehatan melakukan sosialisasi maupun kunjungan ke sekolah.

“Memang ada untuk pencegahan itu kita perlu macam misalnya sosialisasi dan sebagainya. Nah, ini masukan buat teman-teman untuk dalam penyusulan peraturan daerah itu nantinya,” ujarnya.

Secara umum, data Dinkes Kaltim mencatat 1.018 temuan HIV sepanjang 2025 di berbagai wilayah Kaltim. Samarinda, Balikpapan dan Kutai Kartanegara menjadi wilayah dengan kontribusi temuan kasus tertinggi.

Pada Januari-April 2026, Dinkes Kaltim kembali mencatat 441 kasus baru HIV dan 117 kasus AIDS di seluruh kabupaten/kota. Kelompok usia 20-49 tahun menjadi kelompok dengan jumlah temuan terbesar, meski kasus juga ditemukan pada balita, anak-anak, remaja, dan kelompok usia lanjut.

Penguatan pencegahan tersebut menjadi bagian dari pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penanggulangan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS).

DPRD Kaltim bersama Pemprov Kaltim tengah membahas penguatan koordinasi lintas sektor, termasuk sektor pendidikan.

Darlis juga menilai kerja lintas sektor membutuhkan lembaga yang memiliki kewenangan jelas. Opsi yang dibahas yakni mengaktifkan kembali Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) atau membentuk kelompok kerja (pokja) khusus.

“Kalau kita sepakat penanggulangan HIV ini harus melibatkan lintas sektor, harus ada lembaga penanggung jawabnya. Kami akan mendiskusikan dengan Biro Hukum dan Pemprov Kaltim, apakah mengaktifkan kembali KPA atau membentuk pokja khusus,” tutup Darlis.

Related posts

Udara Sendawar Masuk Kategori Berbahaya, ISPU Tembus 363

R'sya Rahmadina

Labkes Kaltim Punya Alat Deteksi HIV, tapi Belum Difungsikan untuk Skrining

Rizki

Dana Global Fund untuk HIV/AIDS Berpotensi Berakhir 2027, DPRD Kaltim Usul Sokongan dari APBD

Rizki