Samarinda, Infosatu.co – Persoalan kelangkaan, harga LPG 3 kilogram yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) hingga distribusi yang belum tepat sasaran menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Hal itu disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun saat launching Kartu Akses UMKM Penyintas Gas LPG 3 Kg (KEMAS). Program tersebut disiapkan Pemkot Samarinda melalui Dinas Perdagangan (Disdag) untuk memperbaiki akses LPG bersubsidi bagi masyarakat yang berhak, khususnya pelaku usaha mikro.
Andi Harun menegaskan LPG 3 kg memiliki peran penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM. Karena itu, penyalurannya harus mampu menjamin penerima memperoleh LPG sesuai hak dan kebutuhan mereka.
Menurutnya, KEMAS dirancang dengan empat prinsip utama.yakni tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, dan tepat waktu.
“Pastikan kartu ini benar-benar dipegang dan dimanfaatkan oleh mereka yang berhak. Jangan sampai ada kebocoran atau penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegas Andi Harun, Selasa, 15 September 2026.
Ia juga meminta distribusi LPG kepada pemegang Kartu KEMAS tidak berhenti pada penerbitan kartu, tetapi harus diikuti pengawasan di tingkat pangkalan dan agen.
Ia menginstruksikan camat dan lurah di seluruh Samarinda ikut memantau distribusi kartu sekaligus ketersediaan pasokan LPG di wilayah masing-masing.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga dan DPC Hiswana Migas Samarinda diminta memastikan stok tetap terjamin serta pangkalan mematuhi ketentuan dalam melayani pemegang Kartu KEMAS.
“Sebagus apa pun sebuah program dirancang, keberhasilannya sangat ditentukan oleh pengawasan dan pelaksanaan di lapangan,” ujarnya.
Program KEMAS menggunakan pendekatan pendataan berbasis data terpadu. Penerima kartu disinkronkan dengan data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA), terutama kader dan anggota Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) yang tersebar di 10 kecamatan di Samarinda.
KEMAS bukan sekadar program penyaluran LPG, melainkan upaya pemerintah memastikan persoalan bahan bakar tidak menghambat aktivitas produksi UMKM.
Ia berharap akses LPG yang lebih terjamin dapat menjaga kelancaran operasional usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin memastikan usaha ibu-ibu sekalian tidak terkendala oleh langkanya bahan bakar atau mahalnya harga gas di pasaran,” pungkasnya.
