infosatu.co
PEMERINTAH

Lahan Gambut Hingga Permukiman, BPBD Petakan Titik Rawan Karhutla di Kota Tepian

Teks: Salah satu kebakaran lahan di jalan Sungai Siring menuju APT Pranoto. (Ist)

Samarinda, Infosatu.co – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tepian masih menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, terutama di kawasan yang memiliki lahan gambut, semak belukar, hingga wilayah yang berdekatan dengan permukiman.

Kepala BPBD Kota Samarinda Suwarso menjelaskan sejumlah kawasan kini masuk dalam pemetaan daerah rawan karhutla. Bantuas di Kecamatan Palaran menjadi salah satu titik perhatian, karena terdapat kawasan gambut yang mudah terbakar ketika kondisi lahan mengering.

Selain Bantuas, kawasan Lempake dan Betapus juga dinilai memiliki tingkat kerawanan karena terdapat belukar dan alang-alang yang mudah tersulut api.

Sementara Makroman, Pulau Atas, dan Simpang Pasir turut menjadi wilayah yang terus dipantau.

“Data yang berhasil direkap Pusdalops, dari Januari sampai 9 September ada 161 kejadian kebakaran lahan dengan luas mencapai 315,43 hektare,” kata Suwarso saat dikonfirmasi, Kamis 10 September 2026.

Bantuas tercatat sebagai wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 22 kasus. Beberapa wilayah lainnya seperti Simpang Pasir, Pulau Atas, Makroman, dan Lempake masing-masing juga mengalami sejumlah kejadian kebakaran.

Kondisi tersebut semakin mendapat perhatian karena peningkatan kasus terjadi pada Agustus hingga September, bertepatan dengan periode kemarau dan pengaruh fenomena El Nino.

Menurut Suwarso, kondisi cuaca tahun ini cukup ekstrem. Berdasarkan informasi BMKG yang diterima BPBD, kekuatan El Nino saat ini bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan periode puncaknya pada 2015.

Namun, cuaca bukan satu-satunya pemicu. BPBD menilai aktivitas manusia masih menjadi faktor dominan dalam munculnya kebakaran. Api yang awalnya digunakan untuk membakar sampah atau membuka lahan dapat dengan cepat meluas ketika kondisi lingkungan kering.

“Lebih banyak dominan human error dari sisi kelalaian. Misalnya hanya ingin membakar sampah, tetapi akhirnya meluas,” tuturnya.

Risiko juga menjadi lebih serius ketika kebakaran terjadi di kawasan yang berdekatan dengan permukiman. Salah satu lokasi yang mendapat perhatian adalah kawasan Gang Saka, Kelurahan Putih, karena berada tidak jauh dari rumah warga.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD memperkuat patroli bersama kecamatan, kelurahan, Satpol PP dan relawan. Penanganan juga didukung TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, PUPR, hingga sejumlah lembaga dan perangkat daerah lainnya.

Untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat, BPBD juga memanfaatkan jalur sungai serta dukungan udara.

Bantuan water bombing dari BNPB yang ditempatkan di Bandara APT Pranoto sebelumnya telah digunakan untuk menangani kebakaran di Bantuas dan disiapkan untuk kebutuhan di titik rawan lainnya.

Suwarso mengatakan keberadaan relawan turut mempercepat respons karena informasi awal mengenai kebakaran kerap diterima BPBD dari lapangan.

“Informasi A1 pertama yang kami terima justru dari relawan. Mereka juga melakukan pergerakan penanganan di lapangan,” pungkasnya.

Related posts

Paser 49 Hari Tanpa Hujan, Kekeringan Mulai Menguat di Sejumlah Wilayah Kaltim

Emmy Haryanti

Kekeringan hingga Karhutla Belum Berakhir, Pemkot Samarinda Lengkapi Upaya dengan Salat Istisqa

Rizki

Bukan Cuma Pasar Pagi, Andi Harun Soroti Praperadilan yang Menyangkut Lima Proyek

Emmy Haryanti