infosatu.co
Samarinda

Dampak Intrusi Air Laut, Empat Hari Warga Sungai Kapih Rela Antre Berjam-Jam Demi Air Bersih

Teks: Warga mengantre untuk mendapatkan air bersih secara gratis di IPA Sungai Kapih, Kelurahan Sungai Kapih, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Sudah empat hari warga Kelurahan Sungai Kapih, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, harus mengantre untuk mendapatkan air bersih. Mereka rela menunggu berjam-jam secara bergiliran demi memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah krisis air yang terjadi akibat intrusi air laut ke Sungai Mahakam.

Air bersih tersebut disediakan secara gratis oleh Perumdam Tirta Kencana melalui IPA Sungai Kapih yang berada di Gang Inpres, Kelurahan Sungai Kapih. Warga datang membawa jeriken hingga galon untuk mengambil air sesuai kebutuhan.

Antrean paling ramai terjadi pada sore hari. Warga menyebut kepadatan mulai terlihat sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 Wita dan dapat berlangsung hingga menjelang Magrib.

Galih (55), warga Sungai Kapih, mengatakan warga telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak Perumdam. Menurut dia, air bersih yang tersedia di titik penampungan menjadi andalan masyarakat di sekitar lokasi.

“Memang situasi ini sudah disampaikan PDAM kepada warga karena kadar klorida masih tinggi, sehingga belum bisa dipasok untuk ke kampung-kampung. Jadi sementara, suplai yang ada ini untuk stok masyarakat sekitar,” kata Galih saat ditemui seusai mengantre air bersih, Jumat, 11 September 2026.

Ia mengatakan tidak ada pembatasan jumlah air yang dapat diambil warga. Namun, warga yang menggunakan mobil tidak diperbolehkan mengambil air sehingga pengambilan dilakukan dengan kendaraan roda dua maupun secara manual menggunakan wadah yang dibawa masing-masing.

Air yang diperoleh warga kemudian digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Galih menyebut air tersebut digunakan untuk minum, mandi hingga mencuci beras.

“Penggunaannya ya untuk minum, untuk mandi juga, untuk cuci beras. Kebutuhan utama lah,” katanya.

Sebelumnya, Staf Humas Perumdam Tirta Kencana Samarinda Taufik mengatakan saat ini terdapat sembilan IPA yang terdampak intrusi air laut. Kesembilan IPA tersebut yakni IPA Bantuas, Palaran, Pulau Atas, Kalhol, Sungai Kapih, Selili, Samarinda Seberang, Tirta Kencana, dan Cendana.

“Memang ada sembilan IPA yang terdampak di Samarinda. Namun, dari pihak lab induk Perumdam dan seluruh intake serta IPA, kami selalu memantau kenaikan kadar klorida,” ujar Taufik.

Taufik menjelaskan, produksi air akan dihentikan sementara apabila kadar klorida melewati ambang batas 250 ppm. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi air baku sebelum produksi kembali dijalankan.

“Apabila di atas 250 ppm kita akan stop produksi dulu. Pada saat 15 menit atau 30 menit ke depan kita selalu memantau kenaikan kadar klorida. Apabila di bawah batas ambang 250 ppm, kami akan produksi kembali seperti biasa,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi sembilan IPA tersebut masih dinamis. Sejumlah IPA sudah kembali beroperasi, tetapi waktu produksinya dapat dikurangi atau dihentikan kembali apabila kadar klorida kembali meningkat.

“Yang biasa jam operasionalnya 24 jam, mungkin bisa berkurang. Apabila terkena intrusi air laut, kita akan stop dulu,” katanya.

Untuk membantu masyarakat yang terdampak, Perumdam Tirta Kencana menyiapkan sekitar empat hingga lima titik pengambilan air di sejumlah IPA. Warga dapat mengambil air secara langsung melalui keran yang disediakan dengan membawa galon maupun jeriken.

Titik pengambilan tersebut antara lain berada di kawasan IPA Palaran, Pulau Atas, dan Sungai Kapih. Sementara untuk distribusi menggunakan mobil tangki, Perumdam berkoordinasi dengan Satgas BPBD, camat, lurah hingga RT setempat.

“Untuk percepatan layanan kami kepada masyarakat, warga bisa mengambil ke IPA-IPA terdekat yang terdampak intrusi air laut,” tutur Taufik.

Distribusi melalui mobil tangki diprioritaskan ke lokasi yang memiliki tempat penampungan besar, seperti masjid, gereja, maupun fasilitas umum lainnya. Dengan begitu, masyarakat dapat mengambil air secara terpusat sehingga penyaluran dapat berlangsung lebih cepat.

Perumdam Tirta Kencana juga mengimbau warga menampung air ketika aliran kembali masuk ke rumah masing-masing serta menghemat penggunaannya selama intrusi air laut masih memengaruhi sumber air baku.

Bagi warga Sungai Kapih, hujan menjadi harapan agar kondisi tersebut segera berakhir. Galih berharap hujan segera turun sehingga masyarakat Samarinda tidak lagi menghadapi krisis air bersih.

“Harapannya mudah-mudahan Allah SWT secepatnya menurunkan hujan. Untuk di Samarinda ini jangan lagi ada krisis air. Kita berdoa sama-sama mudah-mudahan cepat turun hujan,” pungkasnya.

Related posts

Tekan Risiko Karhutla, Polresta Samarinda Pasang Maklumat Larangan Membakar di Sejumlah Titik Strategis

Rizki

September Makin Seru! Cek Promo Hotel Claro Pandurata Samarinda dari Paket Menginap hingga Kuliner

Rizki

Dua Hari Sejak Dibuka, Teras Samarinda II Langsung Jadi Magnet Warga

R'sya Rahmadina