infosatu.co
PEMKOT SAMARINDA

157 Karhutla Bakar 278 Hektare Lahan di Samarinda, Water Bombing Mulai Dikerahkan

Teks: Helikopter water bombing yang disiagakan untuk percepatan penanganan Karhutla di Samarinda. (Istimewa/SamarindaBeradab)

Samarinda, Infosatu.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda terus terjadi di tengah kondisi kemarau panjang. Data kumulatif Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda hingga 8 September 2026 mencatat 157 kejadian, dengan total luas lahan terbakar mencapai 278,43 hektare.

Kecamatan Palaran menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai 101,19 hektare dari 52 kejadian. Disusul Kecamatan Sambutan dengan 87,32 hektare dari 37 kejadian dan Samarinda Utara dengan 57,35 hektare dari 30 kejadian.

Besarnya luasan kebakaran tersebut membuat penanganan karhutla diperkuat dari udara. Pemerintah Kota Samarinda mulai mengoperasikan helikopter water bombing untuk membantu pemadaman di lokasi yang membutuhkan penanganan lebih cepat.

Wali Kota Samarinda Andi Harun menyebut peningkatan kebakaran dalam dua pekan terakhir menjadi alasan Pemkot Samarinda meminta dukungan tambahan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kebakaran banyak terjadi pada lahan semak yang mengering, sementara sebagian kasus masih dalam penyelidikan karena diduga memiliki unsur kesengajaan.

“Dalam dua minggu terakhir ini ada volume kebakaran lahan semak kering yang meningkat, baik yang dari penyelidikan pihak Polri ada unsur disengaja maupun karena sebab lain,” ujar Andi Harun.

Dukungan tersebut kemudian direalisasikan melalui pengerahan helikopter water bombing. Penerbangan perdana dilakukan di kawasan Bantuas dengan mengambil air dari void untuk digunakan dalam pemadaman titik kebakaran.

“Hari ini dikabulkan, kita mulai menerbangkan water bombing flight agar bisa menjadi satu kesatuan dari operasi kesiapsiagaan kita dalam penanggulangan karhutla di Kota Samarinda,” jelasnya.

Andi Harun mengatakan operasi di Bantuas menjadi bagian dari penanganan yang tidak terbatas pada satu wilayah. Setiap kawasan di Samarinda yang membutuhkan dukungan pemadaman dari udara dapat masuk dalam peta operasi.

“Tadi kami telah menerbangkan dan operasi pertama pada hari ini adalah ke daerah Bantuas. Nanti airnya diisi di daerah Bantuas, di void di sana, lalu insyaallah akan bekerja sampai before sunset,” katanya.

Operasi direncanakan berlangsung hingga menjelang matahari terbenam. Setelah penerbangan selesai, efektivitas penanganan akan dievaluasi bersama BNPB, TNI dan Polri untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Pada prinsipnya di semua area di Kota Samarinda akan menjadi peta operasi. Oleh sebab itu BPBD kita melekat terus dengan BNPB dalam rangka penanggulangan tersebut,” ungkap Andi Harun.

Andi Harun berharap dukungan water bombing dapat mempercepat penanganan kebakaran, terutama selama kondisi lahan masih kering dan hujan belum turun secara signifikan.

Terkait status siaga darurat kekeringan dan kemarau panjang yang sebelumnya berlaku hingga 7 September 2026, Pemkot Samarinda masih mengevaluasi kemungkinan perpanjangan. Keputusan tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

“Kalau dipandang perlu untuk melanjutkan status kedaruratan kekeringan dan kemarau panjang, ya kita akan melanjutkan sampai eskalasinya turun, mungkin bersama dengan mulai turunnya hujan,” tuturnya.

Ia menegaskan kesiapsiagaan tetap diperlukan selama hujan belum turun dan kondisi kekeringan masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.

“Selama hujan belum turun, maka kita kemungkinan akan melanjutkan status siaga darurat kekeringan dan kemarau panjang,” pungkasnya.

Related posts

Betapus Terbakar, Wawali Ingatkan Warga Tak Bakar Lahan Meski Milik Sendiri

Emmy Haryanti

Bukan Sekadar Award, Wali Kota Ingin Inovasi ASN Jadi Budaya Kerja

Emmy Haryanti

Tuntaskan Pembangunan Fasilitas Kesehatan, Andi Harun Tekankan Keselamatan Ibu dan Anak

Emmy Haryanti