Samarinda, Infosatu.co – Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kota Samarinda Ira Puspa Rachmawati menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pengasuhan anak meski sebagian waktu anak dihabiskan di Tempat Penitipan Anak (TPA).
Menurut Ira, penitipan anak tidak berarti orang tua melepas peran dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Hal itu dinilai penting, terlebih di tengah isu fatherless yang menjadi perhatian dalam pengasuhan anak.
“Jadi memang salah satu yang kita dukung di sini tetap ada peranan orang tua,” ujarnya usai penutupan kegiatan Penguatan Kapasitas Pengelolaan Tempat Pengasuhan Anak dan Bina Keluarga Balita Kota Samarinda di Aula Sekretariat PKK Samarinda, Jalan S Parman.
Ia mencontohkan salah satu praktik baik yang diterapkan TPA, yakni menyediakan fasilitas CCTV agar orang tua, baik ayah maupun ibu, dapat memantau perkembangan anak selama berada di tempat penitipan. Selain itu, tersedia pula waktu untuk melakukan video call dengan anak.
“Walaupun tidak semaksimal mereka bertemu langsung, tapi itu adalah upaya-upaya agar orang tua itu tetap bisa memberikan pendampingan kepada anaknya, agar anak tidak benar-benar kehilangan,” jelasnya.
Ira menyampaikan, keterlibatan ayah dan ibu juga menjadi bagian dari materi pengasuhan dalam program Bina Keluarga Balita (BKB). Ia meyakini, pengasuhan idealnya didukung oleh kedua orang tua.
Dalam kondisi anak tidak memiliki ayah karena meninggal dunia atau ayah berada jauh, Ira menyebut sosok laki-laki lain dari keluarga dapat berperan sebagai pendamping.
“Jadi kita harapkan ada pengganti sosok laki-laki, baik dari kakek atau kakak laki-laki, atau paman yang tentunya keluarga yang bisa dipercaya, agar tetap mendapatkan sosok laki-laki tadi,” tuturnya.
Ia menegaskan keberadaan sosok laki-laki tetap penting karena pola pengasuhan laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan.
Terkait waktu penitipan, Ira menyampaikan jam operasional TPA berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing pengelola. Namun, rata-rata layanan berlangsung mengikuti jam kerja, sekitar pukul 07.00 hingga 17.00 Wita. Sementara untuk layanan Sabtu dan Minggu bergantung pada kemampuan masing-masing TPA.
“TPA pasti bervariasi ya, tergantung dengan kemampuan TPA masing-masing. Tapi rata-rata pasti di jam kerja,” terangnya.
Meski anak dititipkan selama jam kerja, ia menuturkan tetap terdapat kesinambungan pengasuhan antara TPA dan keluarga. Orang tua mendapatkan laporan mengenai perkembangan serta pembiasaan yang diberikan kepada anak.
“Kalau diajarkan di TPA, misalnya berdoa sebelum makan, di rumah juga harus sama. Supaya tidak ada gap, tidak nyumplang,” ungkapnya.
Hal serupa dilakukan dalam program BKB. Setelah kader menyampaikan materi pengasuhan, penerapannya di keluarga kemudian dievaluasi untuk melihat perubahan perilaku dalam pengasuhan anak.
