Samarinda, Infosatu.co – Peralihan pengelolaan Mal Lembuswana Samarinda membawa perubahan bagi sejumlah pekerja yang selama ini bertugas di kawasan pusat perbelanjaan tersebut.
Sebanyak 75 pekerja PT Sentinel Cakra Buana (SCB) mengaku tidak lagi bekerja setelah pengelolaan Mal Lembuswana beralih kepada pihak baru. Mereka menyebut pemberhentian terjadi sehari setelah proses serah terima pengelolaan, yakni Sabtu, 8 Agustus 2026.
Para pekerja yang terdampak berasal dari sejumlah bagian, mulai dari petugas keamanan, kebersihan, administrasi hingga posisi lainnya.
Salah seorang pekerja Muh Adam mengatakan dirinya telah bekerja selama sekitar dua tahun di Mal Lembuswana. Sementara beberapa rekan kerjanya disebut memiliki masa kerja jauh lebih panjang, bahkan hingga 17 tahun.
Menurut Adam, sebelumnya terdapat informasi bahwa pekerja lama masih berpeluang melanjutkan pekerjaan setelah pergantian pengelola. Namun, kenyataan di lapangan berbeda karena pemberhentian dilakukan secara tiba-tiba.
“Informasinya kami masih akan dipakai. Makanya kami kaget karena tiba-tiba hari ini langsung dikeluarkan semua,” kata Adam, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Ia juga menuturkan pengambilalihan tenaga keamanan berlangsung hingga tengah malam. Sejumlah petugas yang bertugas pada shift malam disebut langsung digantikan tanpa penjelasan terlebih dahulu.
“Yang regu malam juga langsung diambil alih sekitar jam 12 malam. Kami tidak mendapat penjelasan sebelumnya,” ujarnya.
Selain kehilangan pekerjaan, Adam menyebut para pekerja masih menantikan pembayaran upah untuk 18 hari kerja. Ia mengatakan proses pencairan masih menunggu penyelesaian administrasi.
“Untuk upah 18 hari itu masih kami tunggu. Informasinya masih diproses bagian administrasi,” tuturnya.
Situasi tersebut, lanjut Adam, cukup menyulitkan pekerja yang memiliki tanggungan keluarga maupun kebutuhan tempat tinggal.
Dengan pemberhentian secara mendadak, mereka harus kembali mencari pekerjaan tanpa persiapan sebelumnya.
“Banyak teman yang masih punya tanggungan kos dan keluarga. Sekarang harus cari kerja lagi, sementara mencari pekerjaan juga tidak mudah,” katanya.
Adam berharap perusahaan memberikan penjelasan yang lebih terbuka mengenai berakhirnya hubungan kerja mereka. Menurutnya, pemberitahuan sejak jauh hari akan membuat pekerja memiliki kesempatan mempersiapkan diri.
“Kalau memang dari awal kami tidak dipakai, seharusnya diberi tahu lebih dulu. Jadi kami masih punya waktu untuk mencari pekerjaan lain,” ucapnya.
Ia juga mengaku pekerja lama melihat adanya tenaga kerja baru yang kemudian menggantikan posisi mereka setelah pergantian pengelola.
Di sisi lain, pihak pengelola lama Mal Lembuswana memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut.
Divisi Operasional PT Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS) Mal Lembuswana Ferry mengatakan tenaga kerja tersebut berada di bawah perusahaan outsourcing, yakni PT SCB.
Menurut Ferry, hubungan antara pengelola lama dan PT SCB sebelumnya telah diikat melalui kerja sama. Seiring berakhirnya masa pengelolaan, pihaknya juga telah menyampaikan pemberitahuan mengenai penghentian kerja sama tersebut.
“Kerja sama dengan pihak outsourcing memang ada batas waktunya. Sebelumnya kami juga sudah menyampaikan surat mengenai batas akhir kerja sama,” jelas Ferry.
Ia menyebut pemberitahuan tersebut telah disampaikan sejak Juli 2026 dan merupakan pemberitahuan kedua kepada perusahaan outsourcing.
Karena hubungan kerja para pekerja berada di bawah PT SCB, Ferry menegaskan persoalan mengenai status maupun kelanjutan pekerjaan menjadi tanggung jawab perusahaan tersebut.
“Setelah kerja sama berakhir, urusan karyawan menjadi tanggung jawab PT SCB sebagai perusahaan outsourcing,” katanya.
Mengenai keluhan pekerja yang merasa tidak mendapatkan pemberitahuan terkait berakhirnya pekerjaan, Ferry mengatakan persoalan tersebut berada di ranah internal PT SCB.
“Itu merupakan urusan internal PT SCB,” ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa setelah berakhirnya kerja sama, pihak pengelola lama tidak lagi memiliki keterikatan dengan pekerja yang berada di bawah perusahaan outsourcing tersebut.
“Kalau soal pekerjanya, itu berada di pihak outsourcing. Sudah tidak ada hubungan dengan kami,” pungkas Ferry.
