infosatu.co
PEMERINTAH

Indonesia “Lukisan Tuhan”, Menag: Jangan Ada yang Merusak

Teks: Menteri Agama Nasaruddin Umar di acara Dialog Kebangsaan Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning Kutai Barat. (Ist)

Kubar, Infosatu.co – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menjaga kerukunan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa di tengah keberagaman Indonesia. Dalam pernyataannya, Menag bahkan mengibaratkan Indonesia sebagai “lukisan terindah” ciptaan Tuhan yang harus dijaga bersama.

Hal tersebut disampaikan saat Dialog Kebangsaan dalam rangka Harlah ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning di Kutai Barat, Sabtu, 4 Juli 2026. Menurutnya, keindahan Indonesia tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada keberagaman yang saling melengkapi.

“Indonesia adalah lukisan Tuhan yang paling indah di muka bumi. Bukan karena satu warna, tapi karena perpaduan berbagai warna yang kontras. Karena itu, jangan ada yang merusak lukisan ini,” tegas Nasaruddin Umar.

Ia menjelaskan, keberagaman suku, agama, budaya, dan adat istiadat di Indonesia merupakan kekuatan besar yang tidak dimiliki banyak negara lain. Dengan ribuan pulau dan latar belakang yang berbeda, Indonesia dinilai mampu menunjukkan kehidupan yang damai dan harmonis.

Bahkan, Menag menyebut Indonesia mencapai tingkat kerukunan yang tinggi pada periode 2025–2026 dengan skor 87, yang menurutnya menjadi salah satu capaian terbaik dalam menjaga harmoni sosial.

“Tidak ada negara yang seplural dan seheterogen Indonesia, tetapi tetap bisa hidup rukun. Ini adalah sesuatu yang patut kita jaga dan banggakan,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya di Kalimantan Timur dan Kutai Barat, untuk menjadikan Indonesia sebagai contoh nyata kolaborasi antarumat beragama. Ia menekankan bahwa tempat ibadah seperti masjid dan pesantren harus memiliki peran lebih luas.

“Masjid dan pesantren bukan hanya tempat ibadah dan belajar, tapi juga harus menjadi rumah bagi kemanusiaan. Semua anak bangsa adalah saudara,” ujarnya.

Senada dengan itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyebut daerahnya sebagai miniatur Indonesia yang mencerminkan keberagaman yang harmonis. Ia menilai Kutai Barat sebagai salah satu contoh terbaik dalam menjaga toleransi.

“Di Kutai Barat, masyarakat dari berbagai suku, agama, dan budaya bisa hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan gotong royong. Ini adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya,” kata Rudy.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, lanjutnya, juga terus mendorong penguatan nilai toleransi melalui berbagai program. Salah satunya adalah pemberian perjalanan religi bagi penjaga rumah ibadah lintas agama, sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka dalam menjaga harmoni sosial.

Dialog Kebangsaan ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya anggota DPR RI Sarifah Suraidah, Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni, Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, serta tokoh lintas agama dan para santri.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa menjaga kerukunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Related posts

Bankeu Rp6,8 Miliar Pemprov Kaltim Lancarkan Jalan Poros Asa – Juaq Asa di Kubar

Ratu

Stadion Segiri Masih Defisit, Biaya Perawatan Puluhan Juta Rupiah per Bulan

Emmy Haryanti

Program Berlian Tarik Lebih dari 100 Anak ke Perpustakaan Bontang pada Hari Libur

Rizki