Samarinda, Infosatu.co – Cakupan layanan air bersih di Kota Samarinda hingga kini baru mencapai sekitar 85 persen. Masih adanya wilayah yang belum terjangkau jaringan perpipaan membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Samarinda memfokuskan pengembangan layanan ke kawasan pinggiran, terutama Kecamatan Palaran.
Direktur Teknik PDAM Samarinda Kaharuddin mengatakan pemerataan akses air bersih menjadi salah satu pekerjaan utama yang terus dikejar perusahaan.
Selain menjaga kualitas dan kontinuitas distribusi, PDAM juga berupaya memperluas jaringan agar masyarakat yang selama ini belum terlayani dapat segera memperoleh akses air bersih.
“Berdasarkan data kami, cakupan layanan saat ini sudah mencapai sekitar 85 persen,” kata Kaharuddin saat dikonfirmasi, Rabu 1 Juni 2026.
Menurutnya, wilayah yang belum menikmati layanan secara maksimal umumnya berada di daerah pinggiran kota. Untuk mempercepat pembangunan jaringan distribusi, PDAM memperoleh dukungan anggaran dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Kaharuddin menjelaskan, bantuan dari pemerintah pusat mencapai sekitar Rp22 miliar. Dari total anggaran pengembangan jaringan pada tahun ini, sekitar 70 persen diarahkan untuk pembangunan jaringan perpipaan di Kecamatan Palaran.
“Insyaallah tahun ini kami upayakan Palaran bisa dituntaskan. Sekitar 70 persen anggaran pengembangan jaringan tahun ini difokuskan ke wilayah tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, sosialisasi kepada masyarakat mengenai pelaksanaan pekerjaan di lapangan juga telah dilakukan melalui Kantor Kecamatan Palaran agar proses pembangunan berjalan tanpa kendala berarti.
Meski terus melakukan percepatan pembangunan, target pelayanan air bersih mencapai 100 persen pada 2027 masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satu kendala terbesar adalah tingginya kebutuhan investasi pembangunan jaringan perpipaan, terutama untuk menjangkau permukiman yang berjauhan dengan kondisi geografis yang cukup sulit.
“Kami tentu mengupayakan target tersebut, tetapi kendala terbesar ada pada pembangunan jaringan perpipaan karena kondisi wilayah dan jarak antarpermukiman yang memerlukan anggaran cukup besar,” terangnya.
Di tengah upaya perluasan layanan, PDAM juga memastikan peningkatan biaya operasional akibat pemadaman listrik belum akan berdampak terhadap tarif air pelanggan.
Kaharuddin mengakui setiap kali terjadi pemadaman listrik, perusahaan harus mengoperasikan genset menggunakan bahan bakar Dexlite dengan harga sekitar Rp19.000 per liter sehingga biaya operasional meningkat.
Meski demikian, ia menegaskan hingga saat ini belum ada kebijakan untuk menaikkan tarif air.
“Tidak ada rencana kenaikan tarif maupun biaya distribusi air saat ini. Penyesuaian tarif tetap mengikuti mekanisme dan kebijakan yang telah ditetapkan,” tegasnya.
Ke depan, PDAM Samarinda juga akan terus meningkatkan kapasitas pelayanan seiring bertambahnya jumlah pelanggan.
“Langkah ini diharapkan dapat memperluas akses air bersih sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah Kota Samarinda,” pungkasnya.
