infosatu.co
EKONOMI

471 Ribu Usaha Terdata Awal, Sensus Ekonomi 2026 Bakal Jadi Penentu Arah Kebijakan Pembangunan

Teks: Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Gedung Odah Etam, Kantor Gubernur Kalimantan Timur. (Infosatu.co/Ratu)

Samarinda, Infosatu.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan terdapat 471.439 unit usaha di Kalimantan Timur berdasarkan pencermatan awal menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Data tersebut menjadi fondasi awal dalam memetakan kekuatan ekonomi daerah secara lebih akurat.

Hal itu disampaikan Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti dalam Pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Gedung Odah Etam, Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kamis malam, 25 Juni 2026.

Amalia menjelaskan, angka tersebut masih bersifat pre-list atau daftar awal yang nantinya akan diperbarui melalui proses sensus.

“Dari 471.439 unit usaha ini, sekitar 152.077 berada di Kota Samarinda,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan distribusi sektor usaha di Kaltim, di mana sektor perdagangan mendominasi dengan 128.472 unit usaha, disusul industri pengolahan sebanyak 53.189 unit, dan sektor pertanian sekitar 19.800 unit usaha.

Lebih lanjut, BPS telah memetakan sebaran usaha hingga tingkat wilayah. Di Kabupaten Penajam Paser Utara, misalnya, sektor pertanian dan peternakan tersebar di berbagai titik, sementara industri pengolahan seperti tekstil juga mulai berkembang. Di Kutai Kartanegara, sektor perikanan dan pertambangan minyak bumi menunjukkan pola distribusi yang berbeda, mencerminkan karakteristik ekonomi masing-masing daerah.

“Ini baru gambaran awal. Setelah sensus, kita akan punya potret lengkap, di mana usaha berada, bagaimana sebarannya, dan kebijakan apa yang harus diambil,” jelasnya.

Menurut Amalia, data hasil sensus nantinya akan menjadi “lampu pelita” bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah kebijakan pembangunan ekonomi. Tidak hanya itu, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan data tersebut untuk memahami pasar dan menyusun strategi bisnis yang lebih adaptif.

Ia menegaskan, usaha yang tercatat dalam sensus akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. “Ketika usaha tercatat, maka akses terhadap kredit, pasar, dan program pemerintah akan semakin terbuka,” katanya.

Amalia juga memberikan perhatian khusus kepada para petugas sensus yang disebutnya sebagai “pejuang data”. Ia mengingatkan pentingnya akurasi dan kelengkapan data yang dikumpulkan di lapangan.

“Jangan ada satu pun usaha yang terlewat, dan pastikan data yang dikumpulkan akurat. Karena data ini akan menentukan kebijakan Indonesia ke depan,” tegasnya.

Ia juga mengakui tantangan di lapangan tidak mudah, mulai dari penolakan responden hingga keterbatasan akses. Namun, keberhasilan sensus sangat bergantung pada kerja para petugas tersebut.

Sensus Ekonomi 2026 sendiri merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan data komprehensif terkait struktur dan potensi ekonomi Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur.

Amalia mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam sensus ini dengan memberikan data yang jujur dan terbuka. “Data yang akurat hari ini adalah dasar kebijakan yang tepat di masa depan,” pungkasnya.

Related posts

Gubernur Kaltim Soroti Paradoks Ekonomi, “Tikus Mati di Lumbung Padi”

Ratu

Cadangan Gas Baru di Cekungan Kutai Buka Peluang Investasi Besar bagi Bontang

Rizki

Keamanan Jadi Fondasi Ekonomi, Samarinda Andalkan Sinergi Forkopimda

Ratu