infosatu.co
Samarinda

Harga Plastik Diprediksi Naik 100 Persen, Omzet Pedagang di Samarinda Kian Menyusut

Teks: Toko plastik Dimas di Jalan Biawan Samarinda (Infosatu.co/Firda)

Samarinda, infosatu.co – Lonjakan harga plastik yang disebut mencapai hingga 70 persen bahkan berpotensi 100 persen mulai menekan pedagang di tingkat bawah.

Di Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim), penjual plastik mengaku kenaikan kali ini tidak wajar, dengan harga yang berubah hampir setiap hari tanpa kepastian, sehingga langsung memukul omzet.

Di balik lonjakan tersebut, konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mendorong naiknya harga minyak dunia sebagai bahan baku utama.

Seorang pedagang plastik di Toko Dimas, Jalan Biawan Samarinda, menyebut lonjakan harga kali ini bukan sekadar kenaikan, melainkan perubahan harga secara menyeluruh yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini bukan naik lagi sih, tapi sudah berubah total. Naiknya bukan kayak dua ribu atau tiga ribu, tapi berkali-kali lipat. Kita yang sudah jualan puluhan tahun saja kaget, belum pernah ngalami kenaikan sedrastis ini,” ujar pemilik toko, Mama Dimas, Minggu, 12 April 2026.

Menurutnya, kondisi ini jauh berbeda dibanding kenaikan musiman seperti saat Ramadan yang masih dalam batas wajar.

“Kalau hari-hari besar seperti bulan puasa biasanya naik, tapi itu paling sekitar 10 persen dan cuma barang tertentu saja. Nah kalau sekarang semua bahan plastik itu naik semua, rata-rata,” jelasnya.

Kenaikan paling terasa terjadi pada plastik kresek, plastik Polyethylene (PE), hingga kemasan es batu yang banyak digunakan pedagang makanan dan minuman.

“Plastik seperempat yang biasa Rp5 ribu sampai Rp7 ribu sekarang jadi Rp10 ribu. Plastik setengah kilo dari Rp8 ribu jadi Rp15 ribu. Plastik es batu yang biasanya Rp13 ribu sekarang bisa Rp20 ribu sampai Rp22 ribu,” paparnya.

Ia juga menyoroti lonjakan harga dalam skala besar saat pembelian dari distributor. Dalam satu karung, kenaikan bisa terjadi hampir setiap hari dan mencapai ratusan ribu rupiah.

“Setiap kita belanja itu pasti naik. Naiknya bukan cuma Rp50 ribu, tapi bisa sampai Rp150 ribu per karung untuk plastik yang biasa. Jadi memang ngeri sekali kenaikannya ini,” ungkapnya.

Selain itu, kenaikan mulai merata ke berbagai jenis produk lain seperti thinwall, botol plastik, styrofoam, hingga kemasan berbahan kertas, menunjukkan tekanan tidak hanya pada satu jenis komoditas, tetapi hampir seluruh lini produk.

“Thinwall itu dari harga sekitar Rp25 ribu sekarang naik jadi Rp30 sampai Rp35 ribu. Botol-botol naik, styrofoam juga mulai naik, bahkan paper bowl yang dari bahan kertas itu juga ikut naik,” ujarnya.

Sementara untuk sedotan, kenaikannya belum terlalu signifikan karena masih dipengaruhi stok lama dari distributor di luar daerah.

Ia menyebut, informasi dari distributor menunjukkan harga masih berpotensi naik hingga 100 persen, sehingga kondisi saat ini dinilai belum mencapai puncak.

“Katanya sih bisa sampai 100 persen naiknya. Sekarang masih 70, jadi masih ada kemungkinan naik lagi. Sepertinya tidak ada kemungkinan turun, karena setiap kita belanja barang itu pasti naik terus,” katanya.

Dampak langsung dari kondisi ini mulai terasa pada penjualan. Ia mengaku omzet mengalami penurunan drastis sejak harga melonjak, diperparah kondisi pasca-Lebaran dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang membuat daya beli masyarakat melemah.

“Penurunannya drastis sekali. Mungkin juga pengaruh habis Lebaran orang masih banyak libur, ditambah harga sembako juga naik, jadi pembeli banyak yang nahan dulu. Ditambah harga plastik yang gila-gilaan ini, ya makin berpengaruh,” ujarnya.

Meski harga melonjak, hingga kini belum ada alternatif yang benar-benar menggantikan plastik di pasaran.

“Kalau sekarang belum ada alternatif. Plastik ini sudah seperti kebutuhan pokok, jadi tetap dicari walaupun harganya naik,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, ia berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan, tetapi turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil.

Pemerintah diharapkan dapat mengontrol harga di pasaran serta turun ke pasar-pasar agar mengetahui kondisi sebenarnya di masyarakat, tidak hanya berdasarkan laporan.

“Sekaligus membantu mengendalikan harga yang terus melonjak,” pungkasnya.

Related posts

Merespon Pernyataan Kadinkes dan Sudarno, Andi Harun Minta Cermati Aturan dan Diskusi Terbuka

Rizki

Pemkot Tolak Pengalihan JKN 49 Ribu Warga Miskin, Kebijakan Dinilai Menyayat Rasa Keadilan

Firda

Pemkot Samarinda WFH Jumat, Disiplin dan Aktivitas Pegawai Dipantau Real-Time

Firda