infosatu.co
PEMERINTAH

61 Karhutla Hanguskan 83,81 Hektare Lahan di Samarinda, BPBD Duga Sebagian Dipicu Kesengajaan

Teks: Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Sebanyak 61 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per Rabu, 19 Agustus 2026 tercatat terjadi di Kota Samarinda sepanjang 2026. Luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 83,81 hektare.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah seiring meningkatnya potensi kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, sebagian kejadian karhutla yang ditangani tim di lapangan diduga tidak sepenuhnya disebabkan faktor alam. BPBD menemukan indikasi adanya pembakaran yang dilakukan secara sengaja.

“Dari identifikasi tim yang melakukan penanganan di lapangan, dugaan kami unsur kesengajaan lebih besar persentasenya. Memang ada yang karena alam, tapi kecil sekali,” ujar Suwarso usai Rapat Koordinasi Antisipasi El Nino Ekstrem di Samarinda, Rabu, 19 Agustus 2026.

Suwarso mencontohkan salah satu kejadian yang membuat tim gabungan harus kembali bekerja di lokasi yang sama. Setelah api berhasil dipadamkan hingga malam hari, kebakaran kembali muncul keesokan paginya.

Kondisi tersebut membuat BPBD mencurigai adanya aktivitas pembakaran yang dilakukan kembali setelah api sebelumnya berhasil dipadamkan. Padahal, penanganan kebakaran membutuhkan pengerahan personel dan peralatan dalam waktu yang tidak singkat.

“Tim kami menangani kebakaran sampai jam 11 malam, kemudian besok paginya kejadian lagi di daerah tersebut. Bahkan dalam sehari bisa ada empat titik kejadian,” katanya.

Menurut Suwarso, persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika pembakaran dilakukan saat kondisi vegetasi dan lahan dalam keadaan kering.

Api yang awalnya diperkirakan kecil dapat dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan akibat tiupan angin.

Ia mengatakan situasi seperti itu kerap membuat pelaku meninggalkan lokasi ketika api mulai membesar. Setelah itu, tim gabungan BPBD, pemadam kebakaran, relawan, dan unsur lainnya harus turun untuk melakukan penanganan.

“Ketika sudah dimakan api, rumputnya sudah kering dan dibawa embusan angin, kalau sudah tidak sanggup mengendalikan pasti ditinggal lari. Baru tim dari pemadam, BPBD dan unsur lainnya yang kalang kabut menangani,” tuturnya.

Suwarso menilai pembakaran lahan tidak hanya berisiko memperluas kebakaran, tetapi juga dapat berdampak terhadap masyarakat sekitar.

Asap yang muncul berpotensi menurunkan kualitas udara, sementara api dapat merambat ke kawasan permukiman apabila tidak segera dikendalikan.

Karena itu, ia mendorong kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran yang berpotensi menimbulkan kebakaran meluas. Menurutnya, kondisi kemarau membuat setiap sumber api perlu diwaspadai.

Di sisi lain, Pemkot Samarinda terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla seiring kondisi panas dan kering yang diperkirakan masih berlangsung hingga September.

Pemerintah juga mulai melakukan pemetaan terhadap sejumlah risiko yang dapat muncul apabila kemarau berlanjut.

Suwarso memastikan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan BPBD, Damkar, relawan hingga pihak swasta.

Kolaborasi tersebut dinilai penting agar setiap kejadian dapat segera ditangani tanpa harus menunggu kondisi api membesar.

“Kalau untuk penanganan karhutla sendiri kita sudah terpadu antara relawan, BPBD, Damkar, bahkan pihak swasta juga ikut berpartisipasi. Jadi tidak menunggu perintah,” pungkasnya.

Related posts

Operasi Pasar Disiapkan Jangkau Long Apari dan Long Pahangai

Rizki

Kaltim Kirim 9,7 Ton Beras dan 3,45 Ton Komoditas Pasar untuk Warga Mahulu Lewat Jalur Darat

Rizki

9.405 Warga Binaan Kaltim-Kaltara Terima Remisi Kemerdekaan, 203 Hirup Udara Bebas

Rizki